Seorang Diri, Siswi SMK Ini Memprotes Dugaan Pungli dengan Berdiri di Depan Sekolahnya

Aksi minta sumbangan itu dia lakukan di depan sekolahnya. Tampak Ana membawa kotak sumbangan bertuliskan "aksi 1.000 koin".

Seorang Diri, Siswi SMK Ini Memprotes Dugaan Pungli dengan Berdiri di Depan Sekolahnya
Multimedia Polri
Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan S.I.K, M.H. memberikan bantuan kepada siswi dari keluarga kurang mampu, Anaria Mendrofa (16) yang bersekolah di SMK Negeri 2 Gunungsitoli, Sabtu (27/7/2019). Anaria tinggal di Desa Tetehosi Afia, Gunungsitoli, Sumatera Utara. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Gunungsitoli, Sumatera Utara, Anaria Mendrofa (16) mengaku terpaksa meminta sumbangan agar dapat membayar uang komite yang dibebankan sekolah.

Aksi minta sumbangan itu dia lakukan di depan sekolahnya. Tampak Ana membawa kotak sumbangan bertuliskan "aksi 1.000 koin".

Kertas lain juga dibawanya bertuliskan "Lapor!!! Pak Gubsu. Sekolah SMKN 2 Gunungsitoli diduga adanya kutipan liar yang mengatasnamakan komite sekolah.

Ana mengatakan, tindakan itu dia lakukan karena sampai saat ini rapor nya ditahan pihak sekolah.

"Saya minta sumbangan agar bisa mengambil rapor saya yang ditahan pihak sekolah karena belum bayar uang komite," kata Anaria Mendrofa di Gunungsitoli, Jumat (26/7/2019).

Menurut dia, uang komite yang belum dibayar kepada bendahara jumlahnya adalah sebesar Rp 360.000.

Ana menjelaskan, dia tidak sanggup membayar uang komite karena orangtuanya tidak punya uang dan hanya bekerja sebagai petani.

Ana berharap dia bisa dibantu agar dapat bayar uang komite dan mengambil rapornya yang hingga saat ini belum diserahkan pihak sekolah.

"Bagi kami anak petani uang komite sangat memberatkan, kami berharap pemerintah menghapus peraturan terkait pemungutan uang komite," harapnya.

Kepala SMK Negeri 2 Gunungsitoli Tedeus Ndruru membantah bahwa pihak sekolah menahan rapor siswa karena belum bayar uang komite.

Tedeus menjelaskan, rapor Anaria Mendrofa belum diserahkan karena saat penyerahan rapor Anaria Mendrofa tidak hadir ke sekolah.

"Karena dia belum hadir saat pembagian rapor, maka rapornya dibawa wali kelas ke rumah, dan bukan tidak diserahkan.

Saat Anaria Mendrofa datang ke sekolah untuk mengambil rapor, tidak bisa diserahkan wali kelas karena tertinggal di rumah," jelasnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul  Seorang Diri Siswi SMK Berdiri di Depan Sekolahnya Protes Dugaan Pungutan Liar

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved