Breaking News:

Guru dan Orangtua Kunci Hasilkan Pendidikan yang Lebih Berkualitas

Jika ingin mencetak anak-anak berprestasi, harus lakukan setting intentions yaitu memperbaiki niat, membersihkan hati, meluruskan niat

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Eko Sutriyanto
ist
Ajang Innovation School Leaders and Teachers Forum (ISLTF) HAFECS ke-29 Special Parenting yang diselenggarakan secara virtual di aplikasi Zoom dan disiarkan di kanal HAFECS di YouTube, akhir pekan lalu. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Choirul Arifin

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Orangtua murid dan guru serta sekolah memiliki peran penting menciptakan pendidikan yang lebih berkualitas.

Direktur sekaligus Master Trainer HAFECS, Dr (Cand) Zulfikar Alimuddin, B.Eng., M.M. mengatakan, pendidikan Indonesia berkaitan langsung dengan kualitas guru. "Guru yang profesional ialah guru yang menguasai kualitas materi ajar dan kualitas personalnya (mindset)," ungkap Direktur sekaligus Master Trainer HAFECS, Dr. (Cand) Zulfikar Alimuddin, B.Eng., M.M. pada acara Innovation School Leaders and Teachers Forum (ISLTF) HAFECS ke-29 Special Parenting yang diselenggarakan secara virtual di aplikasi Zoom dan disiarkan di kanal HAFECS di YouTube, akhir pekan lalu.

Zulfikar Alimuddin menunjukkan beberapa contoh bagaimana peran orang tua bisa mengembangkan literasi dan potensi anak dalam menunjang belajarnya di sekolah.

Yakni, ajak anak berbicara, sediakan berbagai jenis buku untuk anak, tanamkan pentingnya kerja keras, motivasi anak agar tidak takut gagal.

"Jalin komunikasi dan kolaborasi bersama sang guru dan tawarkan pengalaman dan kesempatan kepada anak," ungkap Zulfikar.

Baca juga: Bamsoet: Ketua KONI Akan Lantik Pengurus Pusat IMI Tanggal 10 Februari 2021

Acara diskusi yang diikuti 4.000 peserta ini terdiri dari dua sesi yakni penyampaian materi & talkshow serta tanya jawab. Pada sesi kedua menghadirkan figur publik sekaligus pemerhati anak Shahnaz Haque sebagai pembicara.

Shahnaz Haque mengungkapkan, menjadi orang tua sekaligus pendidik itu tidak gampang. Perlu penguasaan atau pengendalian diri yang baik. "Orang tua juga tidak boleh menjadi toxic parenting, suka melakukan kekerasan kepada anak," ujarnya.

“Tidak semua orang siap menjadi orang tua, kalau kita ingin mencetak anak-anak berprestasi, kita musti setting intentions atau yaitu memperbaiki niat, membersihkan hati, meluruskan niat.

Karena anak yang bersemangat jika pertama dia memiliki orang tua yang mendukung, kedua ada di lingkungan yang tidak beracun (toxic), ketiga dia musti sehat fisik dan pikirannya,” ungkap Shahnaz.

Baca juga: Kemenag Terbitkan Kurikulum Darurat di Masa Pandemi Covid-19 bagi Jenjang Pendidikan Madrasah

Dia menambahkan, .emperbaiki diri adalah kunci agar para orang tua dan guru dapat memberikan pendidikan serta mengayomi anak dengan baik. "Stop kekerasan pada anak,” imbuh Shahnaz.

Zulfikar menuturkan, peringkat Indonesia pada PISA meningkat pada rahun 2018, berada di posisi 74 dari 79 negara yang berpartisipasi. Namun skor Indonesia menurun dibandingkan Tahun 2015.

“Yang membuat kita tambah sedih adalah, ketika anggaran pendidikan meningkat, ada sertifikasi, ada PPG, kok literasinya tetap rendah, apa yang salah dengan bangsa ini?” ungkap Zulfikar.

Di kegiatan ini HAFECS mengajak para guru agar selalu menjaga profesionalitas mereka dengan cara me-refresh kembali kualitas pengajaran melalui training-training khusus dan lebih mendalam.

Melalui http://guruinovatif.id HAFECS menyajikan kursus-kursus baik itu daring maupun luring yang dapat diakses secara real-time. Portal ini memberikan wawasan kepada guru tentang penguasaan kompetensi guru versi guru inovatif HAFECS.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved