Breaking News:

Learning Loss Dapat Timbulkan Tekanan Psikososial Bagi Siswa

pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berkepanjangan telah berdampak pada menurunnya kemampuan belajar siswa (learning loss).

TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Sejumlah siswa SD mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui saluran televisi satelit Bandung 123 di ruangan utama masjid di RW 05, Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Selasa (13/10/2010). Kanal TV Satelit Bandung 132 ini diluncurkan Pemerintah Kota Bandung dengan menayangkan program Padaringan (Pembelajaran Dalam Jaringan) berisi ratusan konten video mata pelajaran dari tingkat SD hingga SMP sebagai alternatif pembelajaran jarak jauh bagi siswa di masa pandemi Covid-19. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dekan FKIP Universitas Borneo Tarakan Suyadi mengatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berkepanjangan telah berdampak pada menurunnya kemampuan belajar siswa (learning loss).

Menurut Suyadi, learning loss memberikan dampak psikososial terhadap anak-anak.

"Learning loss ini akan memberikan dampak dalam jangka pendek dan jangka panjang. Setidaknya ada tiga dampak jangka pendek yang harus diwaspadai yaitu terganggunya tumbuh kembang anak, terjadinya tekanan psikologis dan psikososial serta kekerasan dalam rumah tangga, dan ancaman putus sekolah," ujar Suyadi dalam Webinar Mitigasi Learning Loss, Kamis (11/2/2021).

Kesenjangan akses belajar, ketidakmerataan infrastruktur, dan perbedaan keterampilan pedagogis guru menjadi beberapa faktor penyebab terjadinya learning loss.

Sedangkan dalam jangka waktu lebih panjang, learning loss mengakibatkan ketidakmampuan tamatan pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Menurut Suyadi, hal ini disebabkan siswa tidak menguasai kompetensi yang dibutuhkan karena tidak mampu mengikuti materi belajar. Padahal kompetensi dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan di masa depan.

Baca juga: Ribuan Siswa di Cimahi Terancam Tak Naik Kelas Akibat PJJ, Kemendikbud Minta Guru Hubungi Orang Tua

"Salah satu kompetensi yang penting dikuasai siswa adalah membaca atau literasi. Bank Dunia sudah memprediksi akan terjadi penurunan skor PISA (Programme for International Student Assessment) dibidang membaca akibat penutupan sekolah," tutur Suyadi.

Dalam skenario menengah, menurut Suyadi, rata-rata siswa akan kehilangan 16 poin PISA dari estimasi positif, sedangkan dalam estimasi negatif, siswa bisa kehilangan 34 sampai 36 poin.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved