Rabu, 10 Juni 2026

Riset: Daerah Vulkanik di Indonesia Cenderung Memiliki Angka Stunting Lebih Rendah

Dalam penelitiannya, Jadrianna menelusuri hubungan antara kesuburan tanah akibat aktivitas vulkanik dan tingkat stunting di berbagai wilayah.

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Dok Pribadi
POTENSI TANAH VULKANIK - Jadrianna Sutrisno, siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School (JIS), mempresentasikan hasil penelitiannya bertajuk From Soil to Supper: Agriculture and Child Health in Indonesia dalam Jakarta Scholars Symposium (JSS) 2026. Penelitian tersebut mengungkap potensi tanah vulkanik yang kaya unsur hara dalam mendukung produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan upaya menurunkan angka stunting di Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik 

Salah satu contoh yang diangkat dalam penelitian tersebut adalah dampak erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat pada 1982.

Meski sempat menimbulkan kerusakan, abu vulkanik yang dihasilkan pada akhirnya memperkaya kandungan hara tanah di wilayah sekitar.

Dalam beberapa tahun berikutnya, produktivitas pertanian meningkat karena lahan menjadi lebih subur.

Fenomena serupa juga ditemukan di sejumlah kawasan pegunungan lain di Indonesia yang memiliki sejarah aktivitas vulkanik.

Menurut Jadrianna, peningkatan produktivitas pertanian memiliki kaitan erat dengan kualitas pangan yang dikonsumsi masyarakat.

"Semakin baik hasil pertanian yang tersedia, semakin besar peluang masyarakat memperoleh asupan nutrisi yang memadai," katanya.

Hubungan inilah yang kemudian mendorongnya untuk mengkaji keterkaitan antara kondisi tanah dan angka stunting.

Daerah Vulkanik Cenderung Memiliki Angka Stunting Lebih Rendah

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen. 

Angka tersebut memang menurun dibandingkan 27,7 persen pada 2019, tetapi masih menunjukkan bahwa hampir satu dari lima balita Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.

Melalui analisis data pertanian, karakteristik tanah, dan angka stunting di berbagai provinsi, Jadrianna menemukan adanya korelasi yang menarik.

Jawa Barat, yang memiliki bentang alam vulkanik luas dan lahan pertanian yang relatif subur, mencatat angka stunting sebesar 15,9 persen. Angka ini termasuk yang terendah di Indonesia.

Sebaliknya, beberapa wilayah di Papua yang memiliki keterbatasan lahan pertanian produktif dan kondisi geografis yang lebih menantang mencatat angka stunting hingga 40,8 persen.

"Saya menemukan korelasi positif antara kesuburan tanah yang diperkaya abu vulkanik dengan rendahnya angka stunting. Apa yang kita konsumsi secara langsung memengaruhi status gizi kita, dan hal tersebut berdampak langsung terhadap kesehatan anak," ujarnya.

Meski demikian, Jadrianna menegaskan bahwa hubungan tersebut merupakan korelasi dan bukan satu-satunya faktor penyebab. Stunting tetap merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi berbagai aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan.

Tantangan Papua dan NTT

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved