Riset: Daerah Vulkanik di Indonesia Cenderung Memiliki Angka Stunting Lebih Rendah
Dalam penelitiannya, Jadrianna menelusuri hubungan antara kesuburan tanah akibat aktivitas vulkanik dan tingkat stunting di berbagai wilayah.
Salah satu contoh yang diangkat dalam penelitian tersebut adalah dampak erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat pada 1982.
Meski sempat menimbulkan kerusakan, abu vulkanik yang dihasilkan pada akhirnya memperkaya kandungan hara tanah di wilayah sekitar.
Dalam beberapa tahun berikutnya, produktivitas pertanian meningkat karena lahan menjadi lebih subur.
Fenomena serupa juga ditemukan di sejumlah kawasan pegunungan lain di Indonesia yang memiliki sejarah aktivitas vulkanik.
Menurut Jadrianna, peningkatan produktivitas pertanian memiliki kaitan erat dengan kualitas pangan yang dikonsumsi masyarakat.
"Semakin baik hasil pertanian yang tersedia, semakin besar peluang masyarakat memperoleh asupan nutrisi yang memadai," katanya.
Hubungan inilah yang kemudian mendorongnya untuk mengkaji keterkaitan antara kondisi tanah dan angka stunting.
Daerah Vulkanik Cenderung Memiliki Angka Stunting Lebih Rendah
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen.
Angka tersebut memang menurun dibandingkan 27,7 persen pada 2019, tetapi masih menunjukkan bahwa hampir satu dari lima balita Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.
Melalui analisis data pertanian, karakteristik tanah, dan angka stunting di berbagai provinsi, Jadrianna menemukan adanya korelasi yang menarik.
Jawa Barat, yang memiliki bentang alam vulkanik luas dan lahan pertanian yang relatif subur, mencatat angka stunting sebesar 15,9 persen. Angka ini termasuk yang terendah di Indonesia.
Sebaliknya, beberapa wilayah di Papua yang memiliki keterbatasan lahan pertanian produktif dan kondisi geografis yang lebih menantang mencatat angka stunting hingga 40,8 persen.
"Saya menemukan korelasi positif antara kesuburan tanah yang diperkaya abu vulkanik dengan rendahnya angka stunting. Apa yang kita konsumsi secara langsung memengaruhi status gizi kita, dan hal tersebut berdampak langsung terhadap kesehatan anak," ujarnya.
Meski demikian, Jadrianna menegaskan bahwa hubungan tersebut merupakan korelasi dan bukan satu-satunya faktor penyebab. Stunting tetap merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi berbagai aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Jadrianna-Sutrisno-1-09062026.jpg)