Rabu, 10 Juni 2026

Siswa Butuh Buku Bacaan Anak Berbahasa Inggris

Kehadiran Alya menambah deretan sedikit nama penulis buku cilik dan membuka kembali fakta masih rendahnya tingkat literasi di masyarakat.

Tayang:
HO/IST
PENULIS CILIK - Penulis cilik Putri Alya Sidik didampingi kedua orang tuanya saat peluncuran tiga bukunya sekaligus dalam Bahasa Inggris di Jakarta, Selasa (9/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Indonesia masih memiliki tingkat kecakapan bahasa Inggris yang rendah, berada di peringkat 80 dari 123 negara pada English Proficiency Index 2025. 
  • Salah satu penyebabnya adalah bahasa Inggris belum lama kembali diarahkan menjadi mata pelajaran wajib di SD.
  • Peluncuran tiga buku karya penulis cilik Putri Alya Sidik menjadi contoh positif untuk meningkatkan literasi dan kemampuan bahasa Inggris anak-anak Indonesia.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam laporan Indeks Kecakapan Bahasa Inggris (English Proficiency Index) pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat ke-80 secara global dari 123 negara, dengan skor 471 dan masuk dalam kategori kecakapan Rendah.

Di Asia, Indonesia berada di posisi ke-12, tertinggal jauh  dari Malaysia dan Filipina.

Hal ini terungkap dalam acara peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, siswi Delima School dan berusia Sembilan tahun, yang telah menulis tiga buah buku dalam bahasa Inggris.

Baca juga: Kisah Alya, Penulis Cilik yang Luncurkan 3 Buku Sekaligus di Usia 9 Tahun

Dilabelkan Diary of Alya, ketiga buku tersebut berjudul My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.

Menurut Wahyu Kusnadi, Guru Bahasa Inggris yang juga editor dari ketiga buku yang ditulis Alya, rendahnya Indeks Kecakapan Bahasa Inggris pada siswa sekolah di Indonesia, khususnya di tingkat dasar, penyebab utamanya bermula dari kebijakan kurikulum.

Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang tidak mewajibkan bahasa Inggris di jenjang SD. 

“Pada kurikulum 2013, bahasa Inggris diturunkan statusnya menjadi mata pelajaran pilihan. Akibatnya banyak Sekolah Dasar yang meniadakan pelajaran ini karena keterbatasan sumber daya pengajar," jelas Wahyu, yang sudah 17 tahun mengajar bahasa Inggris di Delima School Jakarta.

"Pada kurikulum Merdeka 2025, bahasa Inggris kembali dijadikan mata pelajaran pilihan menuju wajib, yang ditargetkan diimplementasikan secara penuh pada tahun ajaran 2026/2027. Namun masa transisi ini masih menyisakan sejumlah kendala," kata Wahyu menambahkan.

Dalam mengatasi kendala di atas, Wahyu mendesak pemerintah untuk segera memenuhi kebutuhan tenaga pengajar bahasa Inggris dengan kompetensi standar untuk sekolah jenjang dasar.

“Penyediaan buku-buku bacaan berbahasa Inggris untuk sekolah yang sesuai dan mendukung kurikulum juga sangat penting. Apalagi harga buku bacaan berbahasa Inggris relatif mahal.” Tandas Wahyu.

Kehadiran Alya menambah jumlah penulis cilik Indonesia yang menulis buku dalam bahasa Inggris. Di antaranya ada nama Deliang Al-Farabi, Nadia Shafiana Rahma, dan Karinda Susanto.

Menurut Ferris Affan, pegiat dunia pendidikan yang juga Principal Delima School Jakarta, kemunculan penulis seperti Alya didorong oleh tren sekolah dwibahasa (bilingual/international school), akses teknologi media, dan meningkatnya kesadaran orang tua terhadap literasi sejak dini.

“Kami mewajibkan seluruh siswa jenjang dasar untuk menggunakan bahasa Inggris di sekolah, begitupun para pendidiknya. Ini bagian dari upaya meningkatkan Indeks Kecakapan Berbahasa Inggris di kalangan siswa SD," jelas Feries. 

Cerita kehidupan keseharian

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved