Mengunjungi Sekolah Anak Percaya Diri, Pewujud Asa Anak Korban Trauma

Memulihkan kepercayaan diri anak korban trauma entah akibat kekerasan orangtua, eksploitasi anak, atau tindak kekerasan seksual, membutuhkan pendekata

Mengunjungi Sekolah Anak Percaya Diri, Pewujud Asa Anak Korban Trauma
Pertamina
Sekolah Anak Percaya Diri berlokasi di Jalan Barukang III Lorong 3, Makassar. 

Anak-anak korban trauma umumnya ditandai dengan perubahan perilaku yang cenderung pendiam, murung, tidak dapat bersosialisasi, etika dan empati yang kurang, hingga cenderung mempraktikkan kembali apa yang mereka lihat dan rasakan kepada lingkungan sekitarnya.

Memulihkan trauma tersebut, biasanya dilakukan dengan terapi khusus oleh psikiater. Tentu membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar. Tidak semua orang, memiliki kemampuan untuk berobat dan berkonsultasi ke psikiater. Akibatnya banyak korban trauma yang terus menderita dalam tekanan psikis, sehingga masa depannya pun menjadi tidak menentu.

Kondisi ini, salah satunya dirasakan masyarakat pesisir Makassar, Sulawesi Selatan. Anak-anak yang kurang beruntung secara psikologis maupun ekonomi, tak bisa berbuat banyak untuk kembali meraih masa depannya. Para orang tua pun tak punya kuasa untuk mengobati anak-anaknya. Kondisi ini pun diperparah dengan konflik internal rumah tangga seperti kekerasan terhadap pasangan, perselingkuhan, eksploitasi anak, sampai tindak kekerasan seksual terhadap anak.

Berangkat dari kondisi ini, seorang pejuang tangguh warga pesisir Makassar, Nuraeni berinisiatif dan tergerak hatinya mendirikan Sekolah Anak Percaya Diri, sebagai sarana bagi anak-anak untuk memulihkan kembali mental dan jiwanya dari trauma, sehingga nantinya dapat kembali beraktivitas dan meraih cita-cita seperti anak-anak lainnya.

Sekolah Anak Percaya Diri, didirikan tahun 2016 , berlokasi di Jl Barukang III Lorong 3 Makassar. Sekolah ini bertujuan mengembalikan rasa kepercayaan diri anak-anak melalui pembelajaran kebersihan diri dan lingkungan, membuat kerajinan, pengembangan bakat dan minat serta pendidikan akhlak.

Harapannya, dengan keberadaan Sekolah Anak Percaya Diri ini, dapat memotong mata rantai tidak baik yang ditimbulkan dari kekerasan di keluarga atau lingkungannya, sehingga anak-anak bisa bersikap lebih baik, punya kepercayaan diri untuk bersosialisasi, dan bisa mengetahui bahwa mereka dilindungi.

"Kami mendirikan sekolah ini hanya bermodalkan uang yang kami sisihkan dari kegiatan usaha Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Az-zahra. Cita-cita kami hanya satu, anak-anak ini terbebas dari pengalaman traumatik yang terjadi dalam kehidupannya, sehingga dapat kembali beraktivitas dan meraih cita-cita seperti anak-anak normal lainnya. Dengan bersekolah di sini, anak-anak diharapkan bisa bersikap lebih baik, punya kepercayaan diri untuk bersosialisasi, serta bisa mengetahui bahwa mereka itu dilindungi," ujar Nuraini.

Nuraeni menyadari, cita-citanya itu harus diupayakan secara maksimal dan membutuhkan banyak pengorbanan. Namun, ia yakini niat baik yang dijalankan dengan sungguh-sungguh pasti akan memetik hasil sesuai yang diharapkan.

Pada saat dibentuk tahun 2016, anak yang bergabung dalam sekolah tersebut kurang dari 10 anak dengan fasilitas terbatas dan masih bergantung pada perkembangan usaha miliknya. Nuraeni bahkan sampai harus mengumpulkan alat tulis dari pertemuan-pertemuan yang diikutinya, untuk menunjang kegatan belajar.

"Saat ini, walaupun masih menempati ruangan yang sama, tapi anak-anak binaan kami sudah mencapai 65 orang," ujarnya.

Halaman
12
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved