Anak Pengusaha Bus PO Jaya Utama Diculik

Anak pengusaha bus terkenal, Aaron Ken Sucitro (7) diculik sepulang sekolah di Institute Pelita Harapan (IPH) di Jl Kedung Baruk.

Anak Pengusaha Bus PO Jaya Utama Diculik
IST
Ilustrasi
TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Kasus penculikan anak kembali menggemparkan Surabaya. Setelah tiga bocah SDN Dukuh Kupang VIII diculik pada Senin (30/9) lalu, kini anak pengusaha bus terkenal, Aaron Ken Sucitro (7) diculik sepulang sekolah di Institute Pelita Harapan (IPH) di Jl Kedung Baruk.

Penculikan yang menimpa anak pasangan Handoko Sucitro dan Titien, warga perumahan Araya Galaxi Bumi Permai Surabaya itu tergolong berani dan nekat. Bahkan, penculikan ini tampaknya sangat terarah dan profesional. Polisi masih mendalami kemungkinan penculikan melibatkan orang dalam atau orang yang dikenal keluarga korban. Karena mobil yang ditumpangi pelaku langsung mengarah ke mobil Honda Jazz L 1895 VU yang di dalamnya ada Aaron, anak bos bus PO Jaya Utama.

Drama penculikan itu terjadi di Jembatan MERR IIC tak jauh dari kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM), Rabu (1/9). Informasi yang diperoleh di lapangan, sekitar pukul 14.30 WIB, Eko Sulistyono, sopir keluarga seperti biasa menjemput Aaron dari sekolahnya di IPH. Ketika perjalanan pulang, laju mobil yang dikemudikan Eko dipotong dari belakang oleh kendaraan Toyota Avanza hitam. Melihat situasi seperti itu, lelaki asal Jombang yang kos di Manyar Sabrangan ini turun.

Tanpa disadari, dua penumpang Avanza dengan ciri-ciri tinggi besar dengan logat non-Jawa turun dari mobil. Satu di antaranya menenteng linggis dan satunya lagi tangan kosong. Pelaku yang membawa linggis mendekati Eko sembari mengancam akan memukul dan memecah kaca mobil.

Satu pelaku menuju pintu belakang sebelah kiri lalu membuka paksa pintu mobil. Pelaku menyeret Aaron dari dalam mobil. Karena ketakutan, Aaron berteriak dan menangis. Pelaku itu membentak dan menyuruh korban diam. Bocah yang tak berdosa itu diseret ke mobil Avanza yang sudah menunggu di depan mobil Honda Jazz. Komplotan pelaku yang sudah siaga kemudian tancap gas.

Sementara Eko yang ada di lokasi tidak berani mengejar pelaku yang membawa kabur anak juragannya. Eko kemudian menghubungi Stanley, paman Aaron, karena orangtuanya ada di Singapura. Kabarnya, Titien, ibu Aaron, tengah menjalani perawatan kemoterapi akibat penyakit kanker payudara. "Setelah mendapat kabar anaknya diculik, Rabu malam ibu dan ayah korban pulang ke Surabaya," tutur sumber di kepolisian.

Hingga Kamis (2/9) siang, Eko yang sudah bekerja tiga tahun di rumah Handoko masih diperiksa di Unit Pidana Umum (Pidum) Reskrim Polrestabes Surabaya. Eko saat diperiksa memberi pengakuan berubah-ubah. Seperti, saat kejadian bumper mobil bagian depan sebelah kanan dikatakan kena serempet mobil pelaku. Tapi, setelah dicek polisi, mobil Honda Jazz tidak ada bekas diserempet. Dalam pemeriksaan Eko juga mengaku menghafal nopol mobil Avanza, namun setelah dicek ternyata nopol itu palsu.

Sementara itu, baby sitter yang akrab dengan Aaron dan biasanya menjemput sekolah, Warsini, saat kejadian tidak ikut menjemput karena sakit. Warsini asal Pare, Kediri yang sudah bekerja selama 10 tahun bersama Fitri Aminah asal Sukomoro, Nganjuk, dan Purwanti asal Sragen (yang baru tiga bulan bekerja) juga diperiksa di Polrestabes Surabaya. Dari keterangan yang diperoleh penyidik, ada satu pembantu (inisialnya Dn) yang mengundurkan diri dari pekerjaan. "Katanya, pembantu yang keluar itu usai bertengkar dengan pembantu lainnya," jelas seorang polisi.

Anom menduga ada dua motif, yakni pelaku ingin meminta tebusan uang kepada orangtua korban, atau ada masalah keluarga. Namun, hingga Kamis (2/9) sore belum ada telepon dari para penculik untuk minta tebusan.

Sementara itu, keluarga korban yang ditemui di rumahnya enggan memberikan keterangan terkait kejadian penculikan salah satu anggota keluarganya.(*)

Editor: Juang Naibaho
Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved