Breaking News:

Pilkada Serentak 2020

Paslon Yang Abaikan Protokol Kesehatan Perlu Dievaluasi Kembali

Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow menyoroti fenomena kerumunan massa saat proses

Tribunnews/Jeprima
Ilustrasi: Bakal calon Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie (kanan) dan bakal calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan (kiri) berfoto bersama Ketua DPD Golkar Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany usai menyerahkan berkas pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tangerang Selatan di Kota Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (5/9/2020). Pasangan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan resmi mendaftarkan diri sebagai kontestan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Tangerang Selatan tahun 2020. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow menyoroti fenomena kerumunan massa saat proses tahapan pendaftatan pasangan calon pemilihan kepala daerah di Pilkada.

Menurut Jeirry, apa yang dilakukan paslon dengan membawa pendukungnya tak menunjukan ketidakpedulian. Pasalnya, massa yang hadir sangat banyak dan tidak menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19.

Hal itu disampaikan Jeirry saat diskusi daring bertajuk 'Pilkada Sehat dan Covid-19: Siapa Peduli?', Selasa (8/9/2020).

Baca: Mendagri Tegur 53 Calon Petahana yang Langgar Protokol Kesehatan saat Pendaftaran Pilkada

"Pasangan calon itu tidak peduli dengan kesehatan pendukungnya. karena itu membiarkan untuk datang," kata Jeirry.

"Jadi keinginan atau nafsu untuk memamerkan dukungan kepada kepada publik itu mengalahkan kepedulian mereka terhadap keselamatan pendukung. Karena yang akan terima akibat ini kan bukan hanya paslon tapi pendukungnya," tambahnya.

Jeirry menambahkan, fenomena itu memperlihatkan sebagian besar lasangan calon yang belaga dalam Pilkada ini tidak peduli dengan keselamatan dan kesehatan pendukungnya.

Baca: Polri Terjunkan 192.168 Personel untuk Kawal Pilkada Serentak 2020

Karena, membiarkan dan melonggarkan pendukungnya itu untuk datang, arak-arakan tanpa jaga jarak tanpa menggunakan alat-alat keselamatan protokol Covid-19.

Menurut Jeirry, calon pemimpin seperti itu perlu dievaluasi kembali untuk menjadi seorang pemimpin.

"Ini harus kita tegaskan dan tentu pemimpin model begini semestinya kita evaluasi kembali untuk jadi pemimpin daerah ini," jelasnya.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved