Pilpres 2019

Perludem: Situasi Pemilu 2019, Timbulkan Iklim Tak Kondusif

Menurut dia, kampanye melahirkan polarisasi yang tidak berkontribusi dengan pendidikan pemilih.

Perludem: Situasi Pemilu 2019, Timbulkan Iklim Tak Kondusif
Glery Lazuardi/Tribunnews.com
diskusi pemilu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini, menilai situasi kampanye di Pemilu 2019 menciptakan rasa tidak nyaman bagi pemilih.

Menurut dia, kampanye melahirkan polarisasi yang tidak berkontribusi dengan pendidikan pemilih. Selain itu, lamanya masa kampanye berdampak kepada rasa jengah.

"Melahirkan iklim, suasana yang tidak kondusif. Menimbulkan dinamika sehingga menurun animo berpartisipasi di proses pemilu," ujarnya, di acara diskusi Antisipasi Naiknya Suhu Politik Pemilu Serentak 2019 di kantor Kementerian Dalam Negeri, Rabu (21/11/2018).

Dia menjelaskan, ada empat hal berkontribusi pada kehangatan proses pemilu. Pertama, dinamika kompetisi di antara peserta pemilu khususnya di antara pasangan calon presiden-calon wakil presiden dan koalisi.

Kedua, perilaku kampanye pasangan calon dan peserta pemilu. Ketiga, proses tahapan pemilu yang berlangsung. Keempat, netralitas penyelenggara.

"Empat hal berkontribusi menaikkan suhu politik," kata dia.

Dia mengkhawatirkan, suhu politik terlalu panas dan membuat tidak nyaman dapat membawa implikasi merugikan selama proses tahapan pemilu.

Sebab, animo pemilih untuk mengikuti pemilu cenderung menurun. Apabila menimbulkan perilaku apatis, maka malah menarik diri dan menjauh dari proses.

Baca: Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi, Rekonstruksi di Enam Lokasi Untuk Lakukan Ini

Kecenderungan menurunnya animo pemilih sudah dapat dilihat di Pemilu 2014. Pada Pemilu 2014, angka pengguna hak pilih di Pileg, yaitu 74 persen lebih banyak dibandingkan Pilpres, yaitu 70 persen. Berbeda dibandingkan pemilu sebelumnya, di mana angka pemilih Pileg lebih tinggi daripada Pilpres.

"Pendekatan kampanye saling intai, ini tidak sehat, karena yang penting mencari kesalahan, yang kebanjiran laporan Bawaslu," tambahnya.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved