Pilpres 2019

Pengamat Sebut Pemilih Saat Ini Sudah Pada Tahap Fanatik

Sepuluh persen yang belum menentukan pilihan, menurut Ray kemungkinan besar mereka memang tak memilih.

Pengamat Sebut Pemilih Saat Ini Sudah Pada Tahap Fanatik
Lendy Ramadhan/Tribunnews.com
Pengamat Politik Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti berikan keterangan mengenai kecenderungan pemilih dalam Pemilu 2019 di sebuah kantor, Jalan Wijaya Timur 3, Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat politik Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti menilai para pemilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, sudah pada tahap fanatik.

Hal tersebut dinyatakannya saat jumpa pers di sebuah kantor, Jalan Wijaya Timur 3, Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).

Menurut Ray, semakin dekat hari pencoblosan, para pemilih sudah menetapkan pilihannya kepada pasangan calon (paslon) tertentu.

"Saat ini sangat sulit untuk terjadi pergeseran suara yang signifikan. Para pemilih semakin dekat pada hari pencoblosan, mereka semakin fanatik. Jadi apa pun kata orang mengenai paslon yang didukungnya, mereka tak akan berpengaruh," kata Ray Rangkuti.

Menurut Ray, setidaknya 90 persen pemilih telah menetapkan pilihannya masing-masing dan hanya sepuluh persen orang yang masih menentukan pilihan, menurut beberapa survei.

Sepuluh persen yang belum menentukan pilihan, menurut Ray kemungkinan besar mereka memang tak memilih.

"90 persen masyarakat sudah menentukan pilihan dari beberapa survei. Sepuluh persen saja yang belum menentukan pilihan. Menurut saya, yang sepuluh persen itu mereka kemungkinan besar golput. Karena saat ini sudah jelas para pemilihnya, ya mungkin ada beberapa dari mereka yang tiba-tiba milih. Tapi golput itu pasti ada," jelas Ray Rangkuti.

Baca: KPU Minta Kasus Hoaks Surat Suara Divonis Sebelum 17 April

Namun menurut Ray Rangkuti, ada tiga hal yang bisa mempelesetkan hasil-hasil survei independen yang selama ini mendominasi.

Tiga hal itu satu di antaranya, salah satu paslon terbukti melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji, misalnya tindak pidana korupsi atau salah ucap yang menyinggung masyarakat banyak seperti di DKI.

Selain itu, bila penyelenggara Pemilu 2019 tidak maksimal dalam memfasilitasi para pemilih untuk memilih, sehingga masih ada masyarakat yang ingin memilih tetapi kehilangan hak pilihnya karena faktor teknis.

Beberapa lembaga survei Pilpres 2019 telah melakukan survei selama lebih dari satu kali.

Hasil lembaga-lembaga survei tak semua sama, beberapa memenangkan paslon 01, satu di antaranya, Litbang Kompas.

Sedangkan lembaga survei yang memenangkan pasangan calon nomor urut 02, adalah Puskaptis.

Penulis: Lendy Ramadhan
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved