Pilpres 2019

Polri Amankan Sidang Putusan Sengketa Pilpres 2019, Kapolri: Tidak Boleh Membawa Peluru Tajam

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menginstruksikan personelnya yang amankan sidang putusan sengketa Pilpres 2019 untuk tidak membawa peluru tajam.

Polri Amankan Sidang Putusan Sengketa Pilpres 2019, Kapolri: Tidak Boleh Membawa Peluru Tajam
Tribunnews.com/ Vincentius Jyestha
Para personel Polri tengah duduk di sela tugasnya mengamankan jalannya sidang Sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi. 

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menginstruksikan personelnya yang mengamankan sidang putusan sengketa Pilpres 2019 untuk tidak membawa peluru tajam.

TRIBUNNEWS.COM - Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian instruksikan personelnya yang mengamankan sidang putusan sengketa Pilpres 2019 untuk tidak membawa peluru tajam.

Hal tersebut diungkapkan Tito Karnavian saat ditemui di ruang Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (25/6/2019).

"Saya sudah menegaskan kepada anggota saya tidak boleh membawa peluru tajam, itu protap (prosedur tetap)-nya," kata Tito.

Baca: Sempat Izin ke Toilet Saat Sidang MK, Begini Cara Saksi 02 Temukan DPT Bermasalah

Baca: Luhut Minta Pendukung Prabowo Nurut Tidak Unjukrasa Putusan Sidang MK

Baca: Jelang Putusan Sidang MK, Demokrat Ungkap Intensif Jalin Komunikasi dengan Kubu Jokowi-Maruf

Baca: Sindir Mahfud MD dan Hamdan Zoelva yang Beri Penilaian Sidang MK, BW Sebut Keduanya Hanya Penonton

Sidang pleno pengucapan putusan sengketa Pilpres 2019 akan digelar pada Kamis (27/6/2019).

Pihak kepolisian telah melarang aksi unjuk rasa di depan MK.

Massa yang mau melakukan aksi dialihkan ke area di depan Patung Kuda.

Tito mengatakan, polisi akan membubarkan massa aksi yang tidak tertib dan mengganggu kepentingan publik, apalagi menciptakan kerusuhan.

Baca: Jadwal Sidang Putusan MK Dimajukan Kamis 27 Juni, Berikut Prediksi Hasil Sidang MK oleh Pengamat

Baca: Prediksi Putusan Sidang MK Pilpres 2019, Mahfud MD Sebut Hanya Kurang Satu yang Harus Dibereskan

Namun, penindakan akan dilakukan secara terukur, misalnya dengan imbauan hingga maksimal menembak menggunakan peluru karet.

"Jadi nanti kalau ada peluru tajam, bukan dari Polri dan TNI karena tegas saya dengan Pak Panglima itu sudah menyampaikan kepada para komandan, maksimal yang kami gunakan adalah peluru karet itu pun teknisnya ada dan kami akan berikan warning sebelumnya," ujarnya.

Halaman
12
Editor: Whiesa Daniswara
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved