Enam Arsitek Muda Menangi Kompetisi Desain Revitalisasi Stasiun Tawang dan Gubeng

Mereka ditantang membuat desain arsitektur yang berkelanjutan untuk Stasiun Tawang di Semarang dan Stasiun Gubeng di Surabaya.

Editor: Choirul Arifin
IST
Di kompetisi ini para arsitek dan mahasiswa jurusan arsitektur ditantangmembuat desain arsitektur yang berkelanjutan untuk Stasiun Tawang di Semarang dan Stasiun Gubeng di Surabaya. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Enam arsitek muda yang mewakili arsitek profesional dan mahasiswa jurusan arsitektur memenangi kompetisi desain arsitektur bangunan publik yang diselenggarakan LIxil bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI).

Mereka ditantang membuat desain arsitektur yang berkelanjutan untuk Stasiun Tawang di Semarang dan Stasiun Gubeng di Surabaya.

Kompetisi bertajuk Infill and Adaptive Reuse in Historic Public or Transit Hub in the Cities ini melibatkan tiga juri.

Masing-masing Achmad Noerzaman, President Director PT Arkonin, Andra Matin, Founder Andramatin Architects, dan R.A Kharisma Maulida, Leader B2B Activation Indonesia Lixil Water Technology Indonesia.

Keenam arsitek yang jadi juara adalah 3 dari kategori Profesional yakni karya arsitek berjudul Terawang Tawang oleh Gemawang Swaribathoro, Donald Aditya Epiphanius, dan Raden Wardhana Wijosena Putra sebagai juara 1, Multilevel Tawang Connection oleh Ahmad Setiadi, Endy Ersal, dan Athalla Arissaputra sebagai juara 2 dan dan Tawang Baru oleh Hermawan Dasmanto, Yohanes Richo Wirawan, dan Olivia Imanuela sebagai juara 3.

Baca juga: 6 Fakta Menara Saidah, Gedung Terbengkalai yang Pernah Alami Renovasi Megah & Arsitektur Romawi

Dari kategori Mahasiswa tampil sebagai juara pertama, Hero Station oleh Muhammad Rai Wananda, Wicakssena Dwi Sutrisno, dan Putra Khairus Sidqi, lalu Under One Roof oleh Singgih Salim dan David Mulyawan Troy sebagai juara 2 dan S.C.H (Surabaya Connection Hub) oleh Akbar Kresna Razaq dan Shafira Aulia Paramita sebagai juara 3.

Baca juga: Desain Ibu Kota Negara Karya Nyoman Nuarta Dikritik Kalangan Arsitek, Persiapan Kegiatan Tak Sinkron

Kompetisi ini mencoba untuk mengeksplorasi penggunaan bangunan publik bersejarah dengan arsitektur berkelanjutan di suatu kota tanpa menghilangkan nilai filosofis dan warisan budaya dari bangunan tersebut.

Melalui kompetisi ini, para arsitek profesional maupun mahasiswa arsitektur ditantang menciptakan desain berkelanjutan yang dapat menjawab kebutuhan pembangunan fasilitas publik yang memiliki nilai budaya atau sejarah pada bangunan tersebut.

“Kami ingin memberikan kesempatan kepada para arsitek dan mahasiswa arsitektur di Indonesia dengan latar belakang budaya dan geografis yang berbeda untuk menunjukan desain Sustainable Movement in Historic Public/transit hub mereka," ujar Santa Firmansjah, Presiden Direktur Lixil Water Technology Indonesia, Selasa (25/1/2022).

Dia mengatakan, setiap bangunan publik mungkin memiliki nilai warisan budaya atau peristiwa penting di dalamnya, maka melestarikan warisan lewat pembangunan berkelanjutan merupakan tujuan penting untuk mencapai keseimbangan yang optimal.

Baca juga: Dharmawan Somaatmadja, Arsitek yang Hobi Rancang Bangun Sepeda Motor Listrik

"Kami bangga dapat menemukan talenta-talenta yang memiliki visi berkelanjutan pada desainnya dan dapat diimplementasikan di proyek nyata sehingga mungkin bisa diterapkan dalam revitalisasi Stasiun Tawang di Semarang dan Stasiun Gubeng di Surabaya," ujarnya.

Kompetisi ini digelar sejak September 2021 dan diikuti 221 peserta. Karya para finalis juga telah dipamerkan di acara Lixil Architecture Design Competition Awards & Exhibition yang dihadiri desainer dan arsitek seluruh Indonesia pada 19 Januari 2022. 

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved