Renungan Ramadhan
Sembahyang di Mall
Meski memakan ruang, saya yakin kalau setiap mall ada musholla yang bagus dan nyaman, pasti akan menarik lebih banyak pengunjung.
Gurubesar dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
TRIBUNNEWS.COM - Sepanjang yang saya ketahui, mall-mall megah pusat perbelanjaan di Jakarta mushollanya semakin memperoleh perhatian. Di Pondok Indah Mall (PIM)-II Jakarta, misalnya, mushollanya lebih bagus ketimbang PIM-I, dan selalu ramai setiap waktu salat tiba.
Di mall tersebut, tempat wudunya bersih, nyaman, dan ruang sembahyangnya pun cukup luas dan bersih. Bahkan yang cukup menarik, di situ terdapat petugas titipan sandal atau sepatu yang menolak jika diberi uang tip. Karena memang dilarang oleh manajemen mall.
Dengan adanya musholla yang bersih dan nyaman, kita menjadi tenang untuk ke mall sewaktu-waktu, termasuk dalam suasana Ramadan. Kita tidak lagi direpotkan mencari tempat sembahyang ketika waktunya tiba.
Setiap ke mall PIM Jakarta, saya selalu melihat anak-anak muda potongan gaul, baik laki-laki maupun perempuan, yang antri untuk sembahyang. Juga terlihat ibu-ibu muda bersama anaknya ikut meramaikan musholla mall. Kalau saja tidak berjumpa di situ, mungkin sekali tidak menyangka mereka itu rajin menjaga salatnya mengingat gaya berpakaiannya funky, tidak mengenakan jilbab.
Yang juga membuat saya kagum, pernah saya berjumpa aktivis perempuan yang salah satu kegiatannya adalah memperhatikan kebersihan mukena di mall-mall; yaitu pakaian salat bagi perempuan. Mereka secara suka rela mencuci mukena secara berkala, serta meyediakan gantinya ketika mukena itu dicuci.
Mereka tidak memungut bayaran, bahkan membantu secara suka rela baik tenaga maupun dana. Alasannya, untuk melayani orang beribadah di mall, dan agar mereka merasa nyaman dan menjaga musholla itu agar tidak kumuh, jorok. Tentu saja pihak manajemen mall merasa terbantu.
Meski memakan ruang, saya yakin kalau setiap mall ada musholla yang bagus dan nyaman, pasti akan menarik lebih banyak pengunjung dan memperoleh simpati dari masyarakat. Lebih bagus lagi kalau mall-mall besar itu juga disertai fasilitas umum untuk pendidikan, misalnya lapangan basket dan ruang seminar, maka citra sebuah mall tidak semata tempat shopping yang konsumsitf-hedonistik melainkan ada unsur pendidikan, keagamaan dan budaya.
Saya sendiri sering kecewa ketika datang ke mall atau hotel memperoleh kesulitan menemukan musholla yang bagus. Kalau pun ada tempatnya sulit dijangkau. Belum lagi kondisinya yang kotor serta panas. Tentu saja tidak nyaman untuk beribadah sambil melepas penat. Sekarang ini orang pergi berbelanja dan memilih mall tidak saja mempertimbangkan tempat parkirnya yang mudah, tetapi juga fasilitas mushollanya yang bersih dan nyaman.
Ada pengalaman unik dan cukup mengesankan ketika suatu sore saya makan di restaurant Jepang di PIM. Jakarta. Di sebelah meja saya ada pasangan keluarga muda dengan dua anak yang masih kecil-kecil, usianya sekitar lima dan enam tahun. Ayah-ibunya berdandan layaknya anak gaul, ibunya pakai kaos dan jean.
Apa yang menarik? Sementara menunggu makanan terhidang, ibu muda yang kelihatan funky tadi mengajari anak-anaknya menghafal surat pendek Al-Quran. Kedua anaknya lalu mengikutinya dengan gembira dan lancar.
Pengalaman lain masih serupa tetapi beda konteks. Dalam kesempatan masuk restoran yang juga di PIM Jakarta, saya ketemu beberapa ibu mengenakan jilbab. Mereka baru saja selesai mengikuti pengajian, lalu diteruskan makan siang dan arisan di restauran.
Dua cerita ini setidaknya menyampaikan satu pesan, agar tempat-tempat belanja itu dilengkapi fasilitas tempat salat yang bagus agar pengunjung merasa nyaman. Bagi mereka kebutuhan salat itu paralel dengan kebutuhan makan-minum ataupun belanja di mall.
Apakah ini menunjukkan gaya hidup konsumtif? Itu relatif dan subyektif jawabannya. Mahal atau murah itu tergantung pembelinya dan barangnya. Banyak juga orangtua dan anak-anaknya ke mall dengan tujuan utama ke toko buku karena anak-anaknya merasa antusias melihat-lihat dan membaca buku di ruang ber-AC dengan pilihan yang sangat banyak.
Demikianlah, kegiatan ekonomi, hiburan dan keagamaan di Indonesia saling terkait. Itu semua terlihat terutama dalam acara televisi maupun di mall serta hotel-hotel.
Selama bulan Ramadan pihak televisi menerima keuntungan iklan paling banyak yang dikaitkan dengan mimbar agama dan hiburan. Begitupun perusahaan maskapai penerbangan Garuda, keuntungan terbesar dan paling stabil adalah dari angkutan jamaah haji serta umrah. Belum lagi kita bahas mudik lebaran yang juga mendatangkan dampak keuntungan ekonomi bagi pengusaha transportasi.(*)