Jumat, 10 April 2026

Habibie: Berat Menjalani Ramadhan Tanpa Kehadiran Istri

Menjalani tahun pertama Ramadhan tanpa kehadiran istri tercinta yang sudah 48 tahun menemani, rupanya membuat mantan Presiden ke 3 RI

Penulis: Alie Usman
Editor: Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjalani tahun pertama Ramadhan tanpa kehadiran istri tercinta yang sudah 48 tahun menemani, rupanya membuat mantan Presiden ke 3 RI, Baharudin Jusuf Habibie masih merasa berat dan harus rela menghela nafas dalam-dalam untuk melapangkan dada.

Beruntung, kehadiran cucu-cucu mantan Presiden yang dikenal sebagai anak emas Penguasa Orde Baru tersebut mau menemani sahur dan keseharian Habibie di bulan suci ini.

"Berat ya," ujar Habibie sambil menghela nafas dalam saat ditanya wartawan mengenai perasaannya menjalani ibadah puasa tanpa kehadiran sang istri, usai mengunjungi pusara Hasri Ainun Habibie di komplek pemakaman Blok M, TMP Kalibata, Selasa (17/8/2010) sore.

"Tapi sebagai orang Indonesia, saya selalu optimis. Saya masih beruntung bahwa cucu saya bisa menemani. Kemarin saya sahur dengan cucu saya. Cucu saya si Pasha, usianya 15 tahun. SMA kelas satu, Dia yang menemani saya. Bergantian dia menemani saya dengan cucu saya yang lain, Farhan. Mereka itu bergantian menemani eyangnya," ujar Habibie dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Habibie, momentum Ramadhan seperti saat ini mengingatkannya akan segala hal tentang istrinya. Mulai dari sholat berjamaah setelah sahur, lantunan ayat suci Al Quran yang dibaca sang istri saat menemaninya mengerjakan kegiatan sehari-hari di rumah, hingga romantisme saat berbuka puasa dengan sang istri yang puluhan tahun lamanya tidak pernah berkata sesuatu yang menyinggung perasaannya.

"Semua dek, semua hal berkesan bagi saya. Sahur, sholat di rumah, sholat subuh sesudah sahur. Mau buka puasa, semua amat berkesan bagi saya," ujar Habibie.

"Saat saya kerja, ibu selalu menunggu. Sambil menantikan saya selesai, dia baca Alquran. Dan sekurang-kurangnya satu juz atau satu setengah juz dalam sehari," kenang Habibie.

Habibie juga merasa, kehidupan sehari-harinya selama 48 tahun lamanya dengan sang istri merupakan episode terbaik dalam hidupnya. Kehidupan harmonis yang dijalaninya dengan sang istri membekas dalam hingga saat perpisahan itu tiba, sempat membuat sedikit goncangan dalam hidupnya.

"Tidak pernah saya itu pergi ke satu tempat tanpa ibu tidak tahu, atau ibu tidak hadir menemani sendiri. Tidak pernah. Begitu juga ibu. Nah tiba-tiba dengan dua bulan ibu sakit, lalu ibu berpindah ke dimensi lain. Dari dimensi dunia ke dimensi lain yang saya tidak mengetahui dimensi dunia yang mana," ujar Habibie.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved