Masyarakat Banjar Lestarikan Budaya Nyalakan Obor di Malam Ramadan
KEBIASAAN warga Banjar menyalakan lampu obor di saat malam-malam Ramadan yang disebut budaya Badadamaran hingga kini dilestarikan.
Tayang:
Editor:
Anita K Wardhani
TRIBUNNEWS.COM - KEBIASAAN masyarakat menyalakan lampu obor atau penerangan apa saja di saat malam-malam Ramadan yang disebut budaya Badadamaran. Budaya ini secara turun temurun sudah ada dalam masyarakat Suku Banjar yang mendiami seluruh kawasan yang ada di Kalsel.
Tak ada yang tahu persis mengapa budaya tersebut sudah ada sejak turun temurun di dalam masyarakat yang tinggal di pulau terbesar Indonesia ini.
Namun budaya tersebut diperkirakan hal itu muncul setelah para ulama tempo dulu menganjurkan umat Islam agar menyemarakkan datangnya Ramadan dengan memberikan penerangan di muka rumah masing-masing.
Tujuannya agar umat Islam yang ingin bepergian ke masjid ke Surau untuk melaksanakan salat tarawih berjemaah akan mudah. Pada mulanya masyarakat melakukan penerangan dengan memanfaatkan getah kayu damar yang ditempelkan pada batang bambu untuk disulut menjadi obor.
Membuat penerangan dengan menyulut getah damar tadi akhirnya menjadi sebuah tradisi dan budaya. Kemudian tradisi tersebut dinamakan Badadamaran.
Seiring perkembangan zaman di saat getah kayu damar sulit diperoleh, selanjutnya warga menggantikan damar dengan karet lembaran kering yang disulut lalu menyala menjadi obor.
Agar memudahkan menyalakan karet tersebut, dibuatlah wadah yang terbuat dari batang pisang, pelepah daun rumbia, atau menggunakan bambu.
Tempat membakar karet tersebut pun di bentuk-bentuk. Ada yang menyerupai kapal terbang, menyerupai binatang, menyerupai rumahrumahan dan sebagainya. Saat deretan karet yang dinyalakan di tempat itu maka terlihat indah.
Pada perkembangan berikutnya, bukan saja karet yang dibakar tetapi sudah lebih modern dengan menempatkan batang-batang lilin di tempat-tempat yang dibuat untuk budaya Badadamaran tersebut. Bahkan dengan deretan lampu templok menggunakan minyak tanah.
Lalu setelah zaman terus berkembang pada tahap berikutnya, budaya Badadamaran khususnya di kampung-kampung tertentu sudah pula memanfaatkan lampu lampion atau lampu berhias yang disebut tanglong.
Selanjutnya setelah listrik masuk desa di seluruh wilayah Kalsel, memasang lampu penerangan di depan rumah hanya menggunakan lampu listrik.
Dengan adanya Badadamaran, kedatangan Ramadan begitu terasa. Sepanjang desa yang tadinya gelap gulita tak ada penerangan suasananya menjadi terang benderang. Setiap buah rumah menyalakan lampu-lampu di tepi jalan atau depan rumah.
Budayawan Kalsel, Drs HM Syamsiar Seman mengatakan Badadamaran ini dilakukan sejak awal Ramadhan hingga lebaran. Memasuki malam ke-21, biasanya lampu penerangan akan lebih diperbanyak jumlahnya.
"Memasuki malam 21 atau selikur, bulan sudah tidak terang benderang lagi sehingga masyarakat menambah penerangannya hingga malam lebaran," ujar pria yang aktif di Lembaga Budaya Banjar (LBB) ini.
Soal aspek budaya yang dapat diambil dari tradisi Badadamaran ini, HM Syamsiar Seman mengatakan ada aspek gotong royong yang terdapat dalam tradisi ini.
"Dalam Badadamaran ada aspek yang patut ditiru, yaitu aspek gotong royongnya. Pada zaman dulu para pemuda bergotong royong mencari getah damar di hutan," ujar Syamsiar.
Selain itu, makna yang perlu diketahui dengan adanya tradisi ini, secara tidak langsung bergotong royong memudahkan masyarakat untuk menjalankan ibadah.
Tak ada yang tahu persis mengapa budaya tersebut sudah ada sejak turun temurun di dalam masyarakat yang tinggal di pulau terbesar Indonesia ini.
Namun budaya tersebut diperkirakan hal itu muncul setelah para ulama tempo dulu menganjurkan umat Islam agar menyemarakkan datangnya Ramadan dengan memberikan penerangan di muka rumah masing-masing.
Tujuannya agar umat Islam yang ingin bepergian ke masjid ke Surau untuk melaksanakan salat tarawih berjemaah akan mudah. Pada mulanya masyarakat melakukan penerangan dengan memanfaatkan getah kayu damar yang ditempelkan pada batang bambu untuk disulut menjadi obor.
Membuat penerangan dengan menyulut getah damar tadi akhirnya menjadi sebuah tradisi dan budaya. Kemudian tradisi tersebut dinamakan Badadamaran.
Seiring perkembangan zaman di saat getah kayu damar sulit diperoleh, selanjutnya warga menggantikan damar dengan karet lembaran kering yang disulut lalu menyala menjadi obor.
Agar memudahkan menyalakan karet tersebut, dibuatlah wadah yang terbuat dari batang pisang, pelepah daun rumbia, atau menggunakan bambu.
Tempat membakar karet tersebut pun di bentuk-bentuk. Ada yang menyerupai kapal terbang, menyerupai binatang, menyerupai rumahrumahan dan sebagainya. Saat deretan karet yang dinyalakan di tempat itu maka terlihat indah.
Pada perkembangan berikutnya, bukan saja karet yang dibakar tetapi sudah lebih modern dengan menempatkan batang-batang lilin di tempat-tempat yang dibuat untuk budaya Badadamaran tersebut. Bahkan dengan deretan lampu templok menggunakan minyak tanah.
Lalu setelah zaman terus berkembang pada tahap berikutnya, budaya Badadamaran khususnya di kampung-kampung tertentu sudah pula memanfaatkan lampu lampion atau lampu berhias yang disebut tanglong.
Selanjutnya setelah listrik masuk desa di seluruh wilayah Kalsel, memasang lampu penerangan di depan rumah hanya menggunakan lampu listrik.
Dengan adanya Badadamaran, kedatangan Ramadan begitu terasa. Sepanjang desa yang tadinya gelap gulita tak ada penerangan suasananya menjadi terang benderang. Setiap buah rumah menyalakan lampu-lampu di tepi jalan atau depan rumah.
Budayawan Kalsel, Drs HM Syamsiar Seman mengatakan Badadamaran ini dilakukan sejak awal Ramadhan hingga lebaran. Memasuki malam ke-21, biasanya lampu penerangan akan lebih diperbanyak jumlahnya.
"Memasuki malam 21 atau selikur, bulan sudah tidak terang benderang lagi sehingga masyarakat menambah penerangannya hingga malam lebaran," ujar pria yang aktif di Lembaga Budaya Banjar (LBB) ini.
Soal aspek budaya yang dapat diambil dari tradisi Badadamaran ini, HM Syamsiar Seman mengatakan ada aspek gotong royong yang terdapat dalam tradisi ini.
"Dalam Badadamaran ada aspek yang patut ditiru, yaitu aspek gotong royongnya. Pada zaman dulu para pemuda bergotong royong mencari getah damar di hutan," ujar Syamsiar.
Selain itu, makna yang perlu diketahui dengan adanya tradisi ini, secara tidak langsung bergotong royong memudahkan masyarakat untuk menjalankan ibadah.