Sabtu, 24 Januari 2026

Renungan Ramadhan

Menjaga Hati

HATI, merupakan bagian diri manusia yang misterius.

TRIBUNNEWS.COM- HATI, merupakan bagian diri manusia yang misterius. Karena kemisteriusannya pula penggunaannya pun seringkali sangat simbolik.

Sering kita mendengar ungkapan hatiku terluka atau hatiku tercabik-cabik yang biasanya dilontarkan oleh orang yang baru ditinggalkan orang yang dikasihinya, atau baru mendengar berita duka.

Demikian pula ketika diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, hati menjadi heart.

Padahal terjemahan literalnya adalah jantung. Mungkin ini menunjukkan bahwa hati yang seringkali disebutkan dalam konteks ungkapan seperti diatas tadi adalah bagian yang vital bagi hidup manusia seperti vitalnya fungsi jantung bagi kita.

Karenanya menjaganya menjadi sebuah keniscayaan bagi mereka yang ingin menjaga hidup dan kehidupan.

Sedemikian pentingnya hati ini, maka meskipun dalam berkomunikasi kita melibatkan telinga, mulut, pikiran, mata dan tangan, tapi untuk meminta agar komunikasi berjalan dua arah, maka ungkapan yang dikeluarkan adalah mohon per-hati-an bukan mohon per-telinga-an.

Atau kita perhatikan ungkapan-ungkapan lain yang sifatnya meminta, menyarankan seperti harap diper-hati-kan atau hati-hati di jalan.

Kita tidak tahu siapa orang pertama yang membawa istilah hati ini menjadi khazanah Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Inggris dan Arab, terdapat beragam kata yang serumpun dengan kata hati, yang semuanya berkaitan dengan sikap batin, yang selalu ingin mendapatkan rasa damai, kasih, sadar, tulus, dan peduli serta cinta.

Ketika kita bingung memutuskan suatu perkara, dianjurkan  mendengarkan hati nurani atau suara hati.  Ketika hendak memilih pasangan hidup, orang tua selalu pesan, hati-hati memilih teman hidup untuk selamanya.

Demikian vitalnya peran hati sehingga Nabi Muhammad bersabda, siapa yang hatinya baik, maka baiklah semua perilakunya. Dan siapa yang hatinya sakit, maka sakit semua amalnya. Jadi, betapa sentralnya peran hati dalam kehidupan sehari-hari, karena dari situ terpancar energi kebaikan dan keburukan, dorongan ke arah kemuliaan atau kenistaan.

Karena suara hati selalu mengajak pada kebaikan, maka orang yang bijak mesti mendengarkan kata hatinya sebelum berbicara dan bertindak. Hati nurani adalah guru, pembimbing dan konsultan yang tidak mau berbohong. Terlebih jika hati ini selalu diterangi dan ditambah energi ilahi, maka  makin kuat dan jelas petuahnya agar kita berada di jalan yang benar  dan menggembirakan sesama.

Salah satu fungsi ibadah dan puasa adalah membersihkan kotoran agar tidak mengeras dan berkarat sehingga menutupi cahaya ilahi untuk menerangi relung hati.

Kalau sudah tertutup maka suara hati nurani bisa kalah, suaranya lemah, perintahnya tidak wibawa. Yang cenderung terjadi, seseorang  begitu rentan dipengaruhi dan dikendalikan oleh nafsu rendah yang mengejar kenikmatan fisik, dengan mengurbankan kebahagiaan moral-spiritual.

Kenikmatan fisik durasinya pendek,  dan smakin tua usia seseorang, maka makin mengecil kenikmatan fisik yang bisa diraih.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved