Renungan Ramadhan
Cara Membaca Alquran
SURAH pertama yang diturunkan Allah adalah surah al-Qalam yang diawali oleh sebuah perintah "iqra" artinya bacalah.
Pertama, membaca secara literal, yaitu membaca tulisan yang terdiri dari huruf-huruf dan kalimat-kalimat seperti membaca buku termasuk kitab suci dan sejenisnya. Kedua, membaca fenomena sekitar, mulai dari manusia sampai alam semesta.
Keduanya menuntut hal yang sama yaitu bukan hanya ketajaman indera mata, telinga, tapi juga hati untuk menangkap makna dari apa yang dibaca dan ditemui dalam kehidupan kita sehari-hari.
Apa istimewa dan pentingnya membaca? Dalam pengertian literal pun, membaca itu mengasumsikan bahwa ada intensi dari seseorang untuk memperhatikan, mengamati dan memahami objek yang dibacanya.
Membaca seyogyanya berakhir dengan bertambahnya informasi dan pengetahuan seseorang tentang sesuatu sekecil apapun. Selain itu efek yang hendak dilahirkan tidak hanya sekadar knowing atau recognizing (mengenali) tetapi juga mentransformasikan cara pandang seseorang.
Bahkan sangat mungkin membaca ini menjadikan seseorang seakan diberi jendela untuk melihat persoalan yang ada pada dirinya maupun orang lain.
Membaca dengan efek seperti di atas hanya akan terjadi bila apa yang kita baca diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa diajak `berdialog'. Membaca novel misalnya, bila tuturan cerita novel itu hanya diperlakukan sebagai kata kata yang mati, maka tak akan ada interaksi dan imaginasi yang terbangun antara pembaca dan teksnya, apakah lagi mempengaruhi emosi pembacanya.
Tak akan ada orang yang bisa menangis dan tertawa hanya karena membaca novel tersebut ketika ia hanya dianggap kumpulan huruf-huruf semata.
Sama halnya dengan benda-benda peninggalan masa lalu seperti Candi Borobudur atau hajar aswad misalnya. Ketika mereka `dibaca' sebagai sesuatu yang hidup dan bisa bercerita, maka akan tersingkaplah cerita bagaimana candi tersebut menjadi simbol kejayaan masa lalu dan bagaimana hajar aswad menjadi salah satu media Nabi pada waktu itu untuk menunjukkan kepemimpinannya sebagai seorang al-amin, orang yang dipercaya dan menengahi perselisihan antar suku.
Alquran pun demikian. Alquran hanya akan berbicara kepada kita bila ia dilihat dan dibaca sebagai teks yang hidup dan berbicara dengan konteks universal, lintas masa. Sehingga apa yang diwahyukan kepada Nabi zaman dahulu, masih bisa berbicara pada kita yang hidup pada masa kini.
Bila tidak demikian, maka ayat-ayat dalam kitab suci itu hanya seperti emas dalam debu,yang nilainya tertutup begitu saja.
Dengan membaca seperti yang disebutkan itu atau kita namakan saja membaca yang `authentic' maka sesuatu yang terlihat `bukan apa-apa' menjadi `sesuatu yang berharga'.
Saya teringat salah satu episode acara talkshow TV Amerika Oprah Winfrey. Dalam satu episodenya, Oprah menunjuk secara acak penonton dan diminta untuk menceritakan dirinya untuk jadi salah satu tema talkshow dia berikutnya.
Oprah mengatakan, mencari tema untuk sebuah talkshow selama ini selalu lahir dari diskusi-diskusi antara pakar-pakar. Namun, dia yakin sesungguhnya semua hal yang ada di sekitarnya, termasuk para penonton di studionya memiliki sesuatu yang menarik dan berharga dan `layak' untuk menjadi topik acara tersebut.
Ternyata setiap orang itu menyimpan `emas' yang terpendam seperti dalam pepatah tadi. Betul sekali yang disinyalir dalam Alquran Surah Ala'raf ayat 179, bahwa ada di antara manusia itu memiliki mata tapi tak mampu melihat, punya telinga tapi tak mampu mendengar, dan memiliki hati tapi tak mau memahami. Barangkali orang-orang seperti inilah yang gagal membaca dengan sebenar-benarnya membaca.
Membacalah, karena melaluinya Tuhan menyediakan kita sebuah teropong untuk memandang dunia yang tak terjangkau oleh mata. Membacalah, karena dengannya Tuhan menorehkan rahmat-Nya dalam hati dan pikiran kita.
Membacalah, karena dengannya Tuhan mengajari kita, semua yang kita tak punya. Alladzzi `allama bi al qalam, `allam al insaan maa lam ya'lam.