Berdusta Itu Boleh...Asalkan untuk Mendamaikan Orang Bertengkar
Saking pentingnya ishlah, dalam sebuah riwayat Rasulullah membolehkan orang yang melakukan atau menjembataninya berdusta
Padahal dalam ajaran Islam, kalau terjadi yang demikian harus didamaikan. Sebab, melalui perdamaian terhindarlah dari kehancuran silaturahmi atau hubungan kasih sayang di antara pihak yang bersengketa.
Dikatakan ustadz H Hilman Juhri, penceramah di Banjarmasin, dasar hukum anjuran diadakan perdamaian (ishlah) ditegaskan dalam Alquran, sunah dan ijma ulama.
Firman Allah dalam Surah Alhujurat (49) ayat 9 artinya: "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah orang yang aniaya itu sehingga golongan tersebut kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertindak adil."
"Saking pentingnya ishlah, dalam sebuah riwayat Rasulullah membolehkan orang yang melakukan atau menjembataninya berdusta," kata Hilman Juhri.
Bahkan, lanjut penceramah di berbagai majelis taklim di Banjarmasin ini, berbohong untuk mendamaikan ini bernilai sunat dan mendapat ganjaran pahala.
Dia mencontohkan, ibu A berselisih paham dengan ibu B karena suatu hal. Oleh yang ingin mendamaikan, disampaikannya kepada ibu A bahwa ibu B meminta maaf atas apa yang terjadi. Dia juga mengatakan akan mempertemukan keduanya di majelis taklim. Demikian pula kepada ibu B, dikatakannya hal senada.
"Jika tidak dilakukan semacam itu, apakah bisa keduanya berbaikan dan berdamai kembali. Karena itu, berdusta dalam hal ini disunatkan," bebernya.
Lain hal, urainya, kalau dusta itu hanya mengada-ada. Bukannya dapat pahala, sebaliknya sang pelaku berdosa karena perbuatannya diharamkan.
Soal bermusuhan sesama muslim ini, dia juga mengutip hadis Rasulullah yang melarang lebih dari tiga hari.
Abu Ayyub Al Anshary meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tidak seorang muslim memutuskan silaturahmi dengan saudara muslimnya lebih dari tiga malam yang masing-masingnya saling membuang muka bila berjumpa. Yang terbaik di antara mereka adalah yang memulai mengucapkan salam kepada yang lain."
"Rasulullah juga tidak hanya mendamaikan sesama Muslim. Ketika terjadi perselisihan antara kaum Anshar di Madinah dan Yahudi, Rasulullah juga turun tangan dan mengumpulkan mereka untuk ishlah," paparnya. (serambi ummah)