Rabu, 3 Juni 2026

Drug Dag dan Kesetiaan Para Pewaris Tradisi

Jarum jam di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan Cirebon menunjuk ke angka yang sama.

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, CIREBON - Jarum jam di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan Cirebon menunjuk ke angka yang sama. Jarum terpendek sedikit bergeser dari angka 10, jarum menit baru meninggalkan angka 1.

Lampu-lampu listrik di pelataran masjid itu tidak seluruhnya menghapus gelap malam. Suasana pun agak senyap. Beberapa orang berbicara dengan suara nyaris berbisik, beberapa orang lagi tidur di beralas karpet. Namun suasana berubah menjelang pukul 23.00. Seseorang yang masih berjaga membangunkan rekan-rekannya yang tertidur. Rupanya ada tugas yang harus mereka lakukan, yakni menabuh beduk besar yang berada di samping masjid selama satu jam.

Petugas pertama segera mengambil alat penabuh yang tergantung di dekat beduk itu dan memainkan lagu pertama. Semakin lama, semakin cepat tangannya mengayunkan penabuh beduk. Sekitar lima menit berselang, ia menyerahkan dua alat penabuh itu kepada rekannya. Penabuh kedua meneruskan lagu pertama yang belum tuntas. Setelah 15 menit pertama, tabuhan drug dag memasuki lagu yang kedua selama 15 menit berikutnya.

Iramanya berbeda tapi pola tabuhan tetap fokus pada permukaan beduk dari kulit kerbau itu. Makin lama kian cepat pula iramapukulannya. Pukulan ketiga berbeda lagu. Selain itu, berbeda pola juga pukulannya. Penabuh tidak hanya memukul bagian depan melainkan juga badan beduk. Selingan bunyi yang berasal dari permukaan beduk dan sisi samping beduk memperjelas beda lagu ketiga dengan dua lagu sebelumnya. Lima belas menit terakhir khusus untuk menabuh beduk dengan irama kebanyakan.

Sayang, para penabuh drug dag belum mengetahui kisah tiga lagu pukulan drug dag yang berbeda itu. Adakah lirik dalam tiga lagu berbeda dalam irama drug dag? Para pria yang rata-rata berusia di atas 40 yang selama puluhan tahun pula menjadi penabuh drug dag, tak satu pun yang tahu.
"Mungkin dulu itu merupakan irama lagu bernuasa religi," ujar penabuh drug dag, Asmuni (65), di Masjid Kasepuhan, Kota Cirebon.

Asmuni mengaku selalu menjadi pemukul bedug drug dag setiap Ramadan karena bertekad untuk melestarikan tradisi leluhur. Paling tidak Asmuni masih mengetahui persis mengenai saat-saat khusus untuk memainkan irama drug dag. Tradisi tabuh drug dag menjelang pergantian hari itu adalah warisan Islam sejak zaman Sunan Gunung Jati sekitar abad ke- 14.

Tradisi tersebut, ujar Asmuni, diawali menjelang muka puasa hari pertama bulan Ramadan. Hal itu sebagai sarana komunikasi antara pengurus masjid dan masyarakat untuk mengumumkan awal masa puasa.

Selanjutnya, tabuh drug dag ini berlangsung selama Ramadan menjelang tengah malam. Menurutnya, tradisi drug dag bertujuan untuk mengingatkan umat Islam soal kewajibannya, termasuk mengingatkan warga untuk makan sahur. Ritme bedug yang dipukul secara beraturanselama satu jam, mulai pukul 23.00 hingga pukul 24.00 itu sebagai alarm bagi umat muslim supaya melewati hari esok dengan berpuasa.

Yanto (45), mengatakan memperkirakan tradisi drug dag lahir dari semangat kreatif warga untuk mengusir kantuk di malam bulan Ramadan.

Tentang irama berbeda dalam tradisi drug dag? Yanto mengatakan hal itu sebagai simbol bahwa hidup manusia dinamis. Selain itu, bisa saja agar tabuhan bedug saat itu tidak monoton selain jadi ciri khas dibanding cara menabuh beuk di tempat lain. (Tribun Jabar/Tarsisius Sutomoaiyo)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved