Ramadan 2019

Tak Hanya Ramadan, Rajinlah Puasa Sunah, Ini Penjelasan Peraih Nobel Fisiologi dan Kedokteran

Tak sekadar anggapan, peneliti asal Jepang, Profesor Yoshinori Ohsumi, membuktikan secara ilmiah bahwa puasa dapat membawa dampak baik bagi kesehatan.

Tak Hanya Ramadan, Rajinlah Puasa Sunah, Ini Penjelasan Peraih Nobel Fisiologi dan Kedokteran
Wall Street Journal
Yoshinori Ohsumi, peraih Nobel di bidang Ilmu Fisiologi atau Kedokteran. 

TRIBUNNEWS.COM - Dalam ajaran Islam, berpuasa merupakan salah satu ibadah menahan rasa haus, lapar dan hawa nafsu sejak waktu subuh hingga magrib.

Ibadah berpuasa dipercaya tak hanya membawa kebaikan terhadap aspek rohani tetapi juga jasmani.

Tak sekadar anggapan, peneliti asal Jepang, Profesor Yoshinori Ohsumi, membuktikan secara ilmiah bahwa puasa dapat membawa dampak baik bagi kesehatan.

Bagaimana penjelasannya? Tribunnews.com bekerjasama dengan Gana Islamika menampilkannya dalam tulisan ini.

Ilustrasi Puasa
Ilustrasi Puasa (ISTIMEWA)

Peraih nobel ini menemukan bahwa puasa berkaitan erat dengan autophagy.

Autophagy merupakan istilah Yunani yang berarti ‘memakan diri sendiri’.

Secara ilmiah, autophagy dikenal sebagai kemampuan sel dalam tubuh untuk memakan atau menghancurkan komponen tertentu di dalam sel itu sendiri.

Melalui penelitiannya, Ohsumi menemukan bahwa autophagy memegang peran besar dalam tubuh.

Mekanisme ini berperan besar dalam mengontrol fungsi-fungsi fisiologis penting di mana komponen sel perlu didegradasi dan didaur ulang.

Dengan autophagy, sel dapat mengisolasi bagian dari sel yang rusak, mati, tidak bisa diperbaiki, terserang penyakit, maupun terinfeksi.

Halaman
123
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved