Minggu, 17 Mei 2026

Ramadan 2026

Apa Hukum Mengirim Stiker Doa Melalui Medsos?

Jelang Ramadan tak sediikit kiriman doa di medsos. Doa yang dikirimkan bentuk teks atau gambar. Apa hukumnya?

Tayang: | Diperbarui:
freepik.com
Ilustrasi gawai - Jelang Ramadan tak sediikit kiriman doa di medsos. Doa yang dikirimkan bentuk teks atau gambar. Apa hukumnya? 
Ringkasan Berita:
  • Jelang Ramadan tak sedikit dari kita mendapatkan kiriman atau bahkan ikut mengirim ulang doa di medsos. 
  • Doa yang dikirimkan bisa dalam bentuk teks atau gambar seperti stiker. 
  • Lantas, apakah hukum mengirim stiker doa di grup WhatsApp? 

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Media sosial di era digital seperti dua hal tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. 

Interaksi sosial melalui komunikasi dapat dilakukan dengan cepat dan mudah melalui medsos, termasuk menyampaikan ungkapan belasungkawa, doa, dan sejenisnya. 

Baca juga: Doa Awal Ramadhan, Menyambut Bulan Suci dengan Ampunan dan Semangat Ibadah

Jelang Ramadan seperti sekarang misalkan, tak sedikit dari kita mendapatkan kiriman atau bahkan ikut mengirim ulang doa di medsos. 

Doa yang dikirimkan bisa dalam bentuk teks atau gambar seperti stiker. 

Lantas, apakah hukum mengirim stiker doa di grup WhatsApp? Adakah nilai ibadahnya?

Mengutip rubrik tanya jawab Fikih Kementerian Agama 

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa doa tersebut tidak dianggap sebagai zikir yang disyariatkan dan tidak terhitung sebagai ibadah. 

Menurutnya, semua zikir dan doa akan menjadi bernilai jika diucapkan dengan lisan hingga terdengar oleh diri sendiri. Imam An-Nawawi mengungkapkan:

اعلم أن الأذكار المشروعة في الصلاة وغيرها، واجبةً كانت أو مستحبةً، لا يُحسبُ شيءٌ منها ولا يُعتدّ به حتى يتلفَّظَ به، بحيثُ يسمعُ نفسهُ إذا كان صحيح السمع لا عارض له

Artinya: “Ketahuilah bahwa zikir-zikir yang disyariatkan, baik dalam shalat maupun di luar shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah, tidak dihitung dan tidak dianggap sah sampai diucapkan dengan lisan, sehingga orang yang mengucapkannya dapat mendengar dirinya sendiri, jika ia memiliki pendengaran yang normal dan tidak ada halangan”. (Imam Nawawi, Al-Adzkar, [Beirut, Dar Ibn Hazm: 2004], h. 46-47).

Doa Lebih Baik Diucapkan Lisan

Ilustrasi - Doa setelah Sholat Hajat, solusi untuk mengabulkan segala keinginan
Ilustrasi - Doa setelah Sholat Hajat, solusi untuk mengabulkan segala keinginan (Freepik)

Dalam menjelaskan keterangan Imam An-Nawawi tersebut, Syekh Ibnu Allan dalam kitab Al-Futuhatur Rabbaniyyah (Beirut, Daru Ihya’it Turatsil Arabi: t.t/h. 155-156) menjelaskan, doa atau zikir yang harus diucapkan dengan lisan.

Dicontohkan, saat membaca Al-Fatihah dalam salat, tidak akan dihitung apabila dilakukan hanya dalam hati. 

Meski begitu, hal ini bukan berarti zikir dalam hati tidak bernilai. 

Ibnu Allan menegaskan bahwa zikir hati tetap sah secara syariat, bahkan merupakan bentuk zikir yang paling utama. 

Karena itu, zikir lisan diperlukan pada amalan yang mengharuskan untuk dilafalkan, seperti beberapa bacaan rukun dalam shalat.

Dengan demikian, mengirimkan doa lewat stiker di WhatsApp, seperti stiker innalillahi, amiin, dan aneka doa lainnya, tidak termasuk zikir yang bernilai ibadah, kecuali jika disertai dengan doa yang benar-benar diucapkan. 


Mengingat hal tersebut, sebelum atau setelah mengirim stiker doa, sebaiknya melafalkan doa tersebut dengan lisan disertai hati yang khusyuk dan penuh penghayatan. 

 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved