Ramadan 2026
Mengapa Berbuka Puasa Harus dengan Makanan Manis? Ini Penjelasan Medisnya
Inilah penjelasan medis mengenai mengapa berbuka puasa harus dengan makanan yang manis sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW.
Ringkasan Berita:
- Kepala Departemen Kedokteran Islam dan Kemuhammadiyahan Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan, dr. Agus Sukaca, M.Kes menjelaskan mengenai mengapa berbuka puasa harus dengan makanan manis.
- Menurut dr. Agus, setelah lebih dari 13 jam perut kosong, tubuh kehilangan banyak cadangan energi.
- Ia mengatakan kunci utama dalam berbuka adalah kecepatan tubuh dalam menyerap nutrisi.
TRIBUNNEWS.COM - Sudah menjadi tradisi turun-temurun di Indonesia untuk menyegerakan berbuka puasa dengan yang manis-manis.
Bahkan, Nabi Muhammad SAW pun saat melaksanakan buka puasa Ramadhan mengonsumsi makanan manis.
Makanan manis yang dikonsumsi oleh Nabi Muhammad SAW seperti kurma basah atau kering.
Namun, tahukah Anda mengapa kebiasaan ini sangat dianjurkan secara medis?
Kepala Departemen Kedokteran Islam dan Kemuhammadiyahan Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan, dr. Agus Sukaca, M.Kes memberikan penjelasan mengenai hal tersebut.
Dalam tayangan OASE Tribunnews.com yang tayang pada 20 April 2021, dr. Agus menjelaskan bahwa setelah lebih dari 13 jam perut kosong, tubuh kehilangan banyak cadangan energi.
Kunci utama dalam berbuka adalah kecepatan tubuh dalam menyerap nutrisi.
"Nabi menganjurkan kurma karena buah ini mengandung glukosa sederhana."
"Begitu dikonsumsi, ia sangat cepat dikonversi oleh tubuh menjadi energi," ujar dr. Agus.
Hanya dalam waktu singkat, tubuh yang tadinya lemas akan merasa bertenaga kembali karena asupan gula tersebut langsung masuk ke sistem metabolisme.
Namun, banyak orang yang melakukan kesalahan saat berbuka puasa.
Baca juga: Tips Berpuasa Ramadhan bagi Penderita GERD, Tak Perlu Balas Dendam saat Berbuka
Setelah mendengar adzan Maghrib, banyak yang langsung menyantap makanan berat seperti nasi.
Secara medis, menurut dr. Agus, ini justru kurang efisien.
Dr. Agus menerangkan bahwa nasi mengandung karbohidrat kompleks yang membutuhkan proses pemecahan kimiawi (Siklus Krebs) yang panjang sebelum menjadi energi.
Hasilnya, jika langsung makan nasi, tubuh tidak segera merasa segar.
Efeknya, orang cenderung makan berlebihan karena rasa lapar tak kunjung hilang meski perut sudah penuh.
Maka dari itu, kata dr. Agus, kurma menjadi makanan yang cocok untuk berbuka puasa.
Selain mengandung gula sederhana yang sehat, kurma dipilih sebagai menu utama berbuka karena kandungan nutrisi lainnya.
Dr. Agus menyebut bahwa kurma sangat baik untuk menjaga kesehatan dan fungsi jantung.
Selain itu, kurma juga dapat membantu mencegah makanan berlebih.
"Karena energi cepat pulih, sinyal kenyang lebih cepat sampai ke otak, sehingga kita tidak akan balas dendam saat makan malam," terang dr. Agus.
Meskipun dianjurkan yang manis, dr. Agus memberikan catatan penting mengenai jenis gula yang dikonsumsi.
Baca juga: 5 Alasan Kurma jadi Buah yang Dianjurkan Dimakan saat Berbuka Puasa
Beliau menyarankan agar rasa manis tersebut berasal dari bahan alami seperti buah-buahan atau madu.
Penggunaan gula pasir dalam jumlah berlebihan pada minuman es atau takjil perlu diwaspadai untuk jangka panjang.
Karena proses kristalisasi gula pasir melalui pemanasan tinggi kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam akumulasi besar.
Dengan demikian, dr. Agus menyimpulkan bahwa anjuran menyegerakan berbuka dengan yang manis — terutama kurma — bukan sekadar perintah agama, melainkan bimbingan kesehatan yang sangat presisi.
Dengan mengikuti pola ini, organ pencernaan tidak kaget, dan kebugaran tubuh dapat kembali dalam waktu kurang dari 15 menit setelah berbuka.
"Apa yang dikatakan Nabi, secara ilmiah terbukti tepat," tegas dr. Agus.
Tips Menu Sahur agar Tetap Bugar
Selain soal berbuka puasa, dr. Agus juga memberikan tips menu sahur agar kita tetap bugar sepanjang hari.
Berikut tips menu sahur dari dr. Agus:
1. Protein Tinggi
Dr. Agus menjelaskan bahwa kunci agar perut tidak cepat terasa kosong adalah dengan memperhatikan jenis asupan yang dimakan.
Beliau sangat menyarankan untuk mengonsumsi makanan dengan kandungan protein tinggi saat sahur.
"Ada bagusnya pada sahur itu kita makan yang memiliki kandungan protein tinggi, apakah telur atau daging," jelas dr. Agus.
Alasan medisnya adalah protein membuat proses pengosongan lambung berjalan lebih lambat.
Sebaliknya, jika sahur didominasi oleh karbohidrat, lambung akan lebih cepat kosong sehingga rasa lapar dan lemas datang lebih awal.
2. Hindari Teh dan Kopi
Banyak masyarakat Indonesia yang terbiasa meminum teh hangat saat sahur.
Namun, dr. Agus justru menyarankan untuk menghindarinya.
Teh dan kopi memiliki efek diuretik, yang artinya memicu tubuh untuk mengeluarkan cairan lebih banyak melalui urin.
"Minuman yang memiliki efek diuretik membuat kencingnya menjadi lebih banyak, sehingga cairan tubuh kita akan lebih cepat terekskresikan. Sebaiknya dihindari," tambahnya.
Mengonsumsi teh atau kopi saat sahur justru berisiko membuat tubuh lebih cepat mengalami dehidrasi di siang hari.
3. Cukup Air Putih
Agar tidak mengalami dehidrasi berat, pemenuhan kebutuhan air putih sangatlah krusial.
Dr. Agus menyarankan target 8 hingga 10 gelas sehari yang dibagi secara bertahap sejak waktu berbuka hingga sahur.
Pola yang disarankan adalah:
- 1 gelas saat berbuka.
- 1 gelas menjelang ke masjid.
- 1 gelas setelah pulang dari masjid.
- Beberapa gelas setelah tarawih dan sebelum tidur.
- Sisanya dipenuhi saat bangun malam dan saat makan sahur.
4. Konsumsi Kurma
Selain untuk berbuka puasa, kurma juga dianjurkan untuk dikonsumsi saat sahur.
Kurma tidak hanya memberikan energi tambahan, tetapi juga merupakan bentuk keberkahan dalam sahur.
Satu hal yang tidak kalah penting adalah waktu pelaksanaan sahur itu sendiri.
Menurut dr. Agus, Nabi sangat menganjurkan untuk sahur mendekati waktu subuh.
Hal ini bertujuan agar rentang waktu kekosongan perut tidak terlalu lama, sehingga dosis puasa yang dijalankan tubuh tetap dalam batas optimal dan menyehatkan.
"Dengan kombinasi protein yang cukup, hidrasi air putih yang tepat, dan mengikuti waktu sahur yang dianjurkan, tubuh akan memiliki cadangan energi yang stabil untuk beraktivitas seharian tanpa rasa lemas yang berlebihan," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.