Senin, 4 Mei 2026

Ramadan 2026

Berapa Jumlah Rakaat Shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi?

Arab Saudi telah resmi mengumumkan jumlah rakaat Shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Rakaat Shalat Tarawih disepakati 10 rakaat.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Presidensi Urusan Agama Dua Masjid Suci menyatakan bahwa jumlah rakaat Shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebanyak 10 rakaat.
  • Keputusan ini melanjutkan tradisi yang telah diterapkan dalam beberapa tahun terakhir.
  • Tujuannya adalah untuk menjaga kenyamanan, kesehatan, serta kelancaran arus jamaah di tengah kepadatan yang luar biasa selama bulan suci.

TRIBUNNEWS.COM - Presidensi Urusan Agama Dua Masjid Suci telah mengonfirmasi bahwa pelaksanaan Shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi untuk bulan Ramadhan 1447 H/ 2026 tetap mengikuti kebijakan terbaru, yakni sebanyak 10 rakaat.

Keputusan ini melanjutkan tradisi yang telah diterapkan dalam beberapa tahun terakhir.

Tujuannya adalah untuk menjaga kenyamanan, kesehatan, serta kelancaran arus jamaah di tengah kepadatan yang luar biasa selama bulan suci.

Mengutip The Islamic Information, 10 rakaat Shalat Tarawih tersebut akan dibagi menjadi lima salam, dengan masing-masing dua rakaat.

Setelah menyelesaikan rangkaian Shalat Tarawih, ibadah akan ditutup dengan Shalat Witir sebanyak tiga rakaat.

"Keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa jamaah dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa harus berdesakan terlalu lama, mengingat jumlah kunjungan jamaah umrah dari seluruh dunia diprediksi akan mencapai puncaknya tahun ini," tulis laporan resmi Kerajaan Arab Saudi.

Tata Cara Shalat Tarawih

Mengutip Baznas, menurut buku 33 Macam Jenis Shalat Sunnah, karya Ustadz Muhammad Ajib, ada perbedaan jumlah rakaat Shalat Tarawih menurut 4 Mazhab, yaitu sebagai berikut:

  • Mazhab Hanafi (20 Rakaat)
  • Mazhab Maliki (20 Rakaat atau 36 Rakaat)
  • Mazhab Syafii (20 Rakaat)
  • Mazhab Hanbali (20 Rakaat)

Adapun yang 8 rakaat merujuk pada para ulama kontemporer seperti Syekh Bin Baaz, Syekh al-Utsaimin, dan Syekh al-Albani (wafat 1420) rahimahullah.

Sholat tarawih dikerjakan dengan cara melakukan 2 rakaat shalat dan kemudian salam hingga berlanjut pada jumlah rakaat terakhir Shalat Tarawih yaitu 8 atau 20 rakaat.

Baca juga: Bacaan Niat Shalat Tarawih, Lengkap dengan Doa Kamilin dan Tata Cara Pelaksanaannya

Untuk lebih detailnya, Shalat Tarawih memiliki tata cara sebagai berikut:

1. Membaca niat Shalat Tarawih

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Usholli sunnatat tarowihi rok’ataini lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat salat Tarawih dua rakaat karena Allah Ta’ala."

2. Membaca surat Al-Fatihah

3. Membaca surah Al-Quran

4. Rukuk

5. Itidal

6. Sujud

7. Duduk di antara dua sujud

8. Sujud kedua

9. Kemudian, kembali lagi mengerjakan rakaat kedua dengan cara yang sama.

10. Terakhir, duduk tasyahud akhir dan salam. 

Setelah melaksanakan Shalat Tarawih, harus ditutup dengan melakukan Shalat Witir dengan rakaat ganjil.

Dalam pelaksanaannya, dapat melakukan 2 rakaat salam dan diikuti 1 rakaat salam atau bisa melaksanakannya 3 rakaat sekaligus. 

Bacaan Doa Kamilin

Setelah melaksanakan Shalat Tarawih, hendaknya kita juga menyempatkan untuk membaca doa kamilin.

Berikut bacaan doa kamilin.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنْ، وَلِلْفَرَآئِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكاَةِفَاعِلِيْنَ، وَلَمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِى الْأَخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَآءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَآءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَآءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَآءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَآئِرِيْنَ، وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آَكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مَنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا، ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn.

Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta lawâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa ilal haudli wâridîn.

Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn.

Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan.

Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn.

Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya: “Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban- kewajiban, yang memelihara Shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu,

yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat , yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami,

Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,

yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik.

Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya.

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam." 

(Tribunnews.com/Whiesa/Farrah Putri)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved