Ramadan 2026
Mutiara Ramadan, Makna di Balik Perintah Puasa, Agar Umat Takwa, Syukur, dan Cerdas
Ini penjelasan Ustaz Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I, Ketua Majlis Syar'i PPTQ Ibnu Abbas Klaten Jawa Tengah da Ketua Formaqi soal perintah puasa.
Mutiara Ramadan Hari Pertama
Oleh Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I
Ketua Majlis Syar'i PPTQ Ibnu Abbas Klaten | Ketua Formaqi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perintah puasa diturunkan pada tahun dua Hijriah, yaitu melalui ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berikut penjelasan Ustaz Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I, Ketua Majlis Syar'i PPTQ Ibnu Abbas Klaten Jawa Tengah sekaligus Ketua Formaqi terkait perintah berpuasa.
Baca juga: Jejak Kiai Umarulfaruq Abubakar, Perjalanan Panjang ke Mimbar Dakwah, dari Menyapu Lantai di Mesir
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Perintah puasa ini membawa kebaikan yang luar biasa, karena para ulama menyatakan bahwa puasa adalah ibadah dengan pahala tanpa batas. Hal ini diambil dari hadis qudsi, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan langsung membalasnya.”
Secara bahasa, puasa berarti al-imsak, yaitu menahan diri. Sementara secara istilah, puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.
Apa manfaat kita melaksanakan puasa? Dari rangkaian ayat tentang puasa, yaitu ayat 183–187, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan paling tidak ada tiga tujuan atau manfaat yang ingin didapatkan melalui puasa ini.
- Yang pertama adalah agar kalian bertakwa.
- Yang kedua agar kalian bersyukur.
- Yang ketiga agar mereka menjadi orang-orang yang cerdas.
Puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus. Puasa bukan untuk lapar kita, bukan untuk haus kita, bukan cuma sekadar menggugurkan kewajiban dan keluar dari rutinitas.
Puasa memiliki tujuan yang ingin kita raih, yaitu agar meraih takwa, mendapatkan syukur, dan benar-benar menjadi cerdas dalam menjalani hidup.
Agar kita bertakwa, maksudnya apa? Takwa, kata para ulama, artinya hati-hati. Takwa artinya takut hati-hati dalam menjalani hidup.
Diumpamakan seperti kita berjalan di tengah onak dan duri, maka kita akan sangat berhati-hati agar kaki kita tidak terinjak duri-duri itu.
Begitulah kita menjalani hidup dengan takwa: sangat hati-hati agar jangan sampai ada perintah Allah yang terlalaikan, jangan sampai ada hak istri yang tidak diberikan, jangan sampai ada hak orang tua yang tidak kita tunaikan, jangan sampai ada hak anak yang tidak kita penuhi dengan sebaik-baiknya, dan jangan sampai ada hak orang lain yang tidak kita berikan.
Kita menjaga diri betul-betul, jangan sampai ada perintah yang tidak kita laksanakan dan jangan sampai ada larangan yang kita terjang. Itulah takwa.
Ketakwaan ini pada akhirnya menjadi inti dari seluruh rangkaian ajaran dalam Islam, yaitu terdapat pada kata ittaqillahbertakwalah kepada Allah. Artinya hati-hati, laksanakan perintah, disiplin, tanggung jawab, dan semua kebaikan itu tersirat dalam kata takwa tersebut.
Apa yang kita dapatkan kalau kita bertakwa? Insyaallah rezeki kita akan dilancarkan. Apapun masalah dan dinamika kehidupan, kita akan selalu mendapatkan jalan keluar. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita jalan keluar, memberikan rezeki bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah akan mudahkan seluruh urusan.
Jadi orang yang bertakwa tetap saja ada masalah, tetap saja ada dinamika, tetap saja ada tantangan hidup. Tetapi seiring dengan tantangan itu, akan ada kemudahan, jalan keluar, solusi, dan rezeki yang Allah hadirkan dengan begitu saja.
Kemudian melalui puasa kita dididik menjadi seorang yang bersyukur. Bersyukur artinya menghargai setiap nikmat yang kita dapatkan. Kita tahu siapa yang memberi nikmat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu kita gunakan nikmat itu sesuai dengan perintah Allah.
Ketika kita mampu menghargai nikmat, sekecil apa pun nikmat yang datang, kita akan berterima kasih kepada yang memberinya. Berbeda jika kita tidak menyadari dan tidak menghargai nikmat. Dapat satu dunia, dapat emas satu ton sekalipun, kalau dalam hati ada rasa rakus, tamak, tidak puas dan tidak bersyukur, maka semua itu hanya akan menjadi hampa. Seakan-akan kita menjadi orang yang paling menderita di dunia, walaupun berada dalam limpahan nikmat yang tidak terkira.
Melalui puasa kita dididik untuk menjadi orang yang bersyukur. Kita bisa menikmati segelas air, sebutir kurma, sesuap nasi. Makanan yang datang akan sangat kita hargai, karena kita melalui proses pendidikan yang panjang. Dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita bersyukur kecuali pada saat itu Allah ingin menambah nikmat-Nya kepada kita.
“Kalau kalian bersyukur, maka Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepada kalian,” kata Allah. Artinya setiap kali kita bersyukur, setiap itu pula nikmat siap tercurah jauh lebih banyak dari sebelumnya.
Dan yang berikutnya, kita menjadi orang-orang yang ar-rasyidun, orang yang pintar, orang yang cerdas dalam menjalani kehidupan. Bagaimana wujud kecerdasan itu? Apakah dinilai dari materi, angka, prestasi, titel, atau penghargaan? Bukan.
Dalam Surah Al-Hujurat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Allah menjadikan kalian mencintai keimanan dan menjadikannya indah di dalam hati kalian, serta menjadikan kalian benci kepada kemaksiatan dan kedurhakaan.
Ketika ada rasa benci kepada kejahatan, benci kepada kefasikan, benci kepada pelanggaran, kemudian cinta kepada kebaikan, mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, membedakan antara yang milik kita dan bukan milik kita—mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka itulah orang-orang yang pintar.
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, dan mampu memutuskan untuk tetap berada di jalan kebenaran dalam kondisi apa pun.
Apakah itu mudah? Ternyata tidak. Ada yang tidak bisa membedakan mana milik dia dan mana milik rakyat, lalu diambil semuanya. Mana istri sendiri dan mana istri orang lain, hingga terjadi perselingkuhan. Mana penjahat dan mana korban, hingga pelaku kejahatan dibela sementara korban dibiarkan bahkan dizalimi.
Ini artinya ada kecerdasan batin yang hilang, tidak mampu lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan hadirnya puasa, kita dididik untuk lebih cerdas dalam menjalani hidup, lebih tegas membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kembali kepada suara batin dan kecerdasan hati ini, sesungguhnya kita kembali kepada fitrah sejati kita sebagai manusia.
Banyak sekali hikmah puasa yang bisa kita rasakan dalam kehidupan kita. Kita berharap Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan terbaik kita. Keluar dari Ramadhan, kita menjadi insan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/foto-ustaz-faruq.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.