Ramadan 2026
Agar Ketaatan Tak Luntur setelah Bulan Ramadan Rampung, Isi Puasa dengan Banyak Dzikir
Memperbanyak dzikir kepada Allah menjadi solusi mempertahankan ketaatan kaum muslim di luar bulan Ramadan saat menjalankan kehidupan sehari-hari.
Ringkasan Berita:
- Salah satu hal yang menjadi permasalahan soal puasa adalah tak memberikan efek kepada pelaksananya.
- Mengisi puasa dengan kegiatan atau sesuatu yang melalaikan menjadi sebab utama puasa tersebut tak memberikan dampak positif.
- Sedianya puasa diisi dengan dzikir kepada Allah agar menjadi hamba yang bertakwa.
TRIBUNNEWS.COM - Bergulirnya bulan Ramadan sejalan dengan berlangsungnya ibadah puasa yang dijalankan kaum muslimin di seluruh dunia.
Pada umumnya, kaum muslimin berlomba memperbanyak amal saat menjalani hari-hari di bulan suci ini.
Bisa dibilang, banyaknya amal yang dijalankan saat Ramadan terkadang tak berbekas saat orang-orang meninggalkan bulan tersebut.
Dengan kata lain, ketaatan itu hanya dilakukan secara masif saat mereka berada di bulan Ramadan.
Selebihnya, orang-orang cenderung kembali ke kebiasaan condong kepada aktivitas duniawi.
Lunturnya kualitas ibadah dan ketaatan ini kerap menjadi pertanyaan dari tak sedikit kaum muslimin.
Baca juga: Jadwal Buka Puasa Kota Samarinda Senin, 23 Februari 2026
Apa yang seharusnya dilakukan agar ketaatan itu tetap tinggi bahkan saat Ramadan berakhir?
Pengajar mata pelajaran tafsir Al-Qur'an di Pondok Pesantren Imam Bukhari, Rizky Narendra, Lc, menjabarkan terkait persoalan tersebut.
Pria lulusan Universitas Islam Madinah tahun 2013 ini menyoroti kualitas puasa yang dijalani kaum muslimin.
Kunci mempertahankan ketaatan di luar bulan Ramadan dimulai dari puasa yang sungguh-sungguh dan tidak lalai.
Maksudnya, kaum muslim sedianya memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
"Mengapa terkadang orang merasa berpuasa selama bertahun-tahun tetapi tidak mengalami perubahan? Ada dua kemungkinan, perintah puasanya yang salah, atau puasa yang dilakukan orang itu yang salah," kata Ustadz Rizky Narendra saat ditemui Tribunnews di lantai dua masjid Pondok Pesantren Imam Bukhari, Selokaton, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (23/2/2026).
"Apakah perintah Allah yang salah? Tidak mungkin, karena wahyu tidak mungkin salah."
"Berarti puasa yang dilakukan orang ini yang salah. Apa yang salah? Puasanya tidak sungguh-sungguh (main-main), banyak lalai dari dzikir kepada Allah," sambungnya.
Puasa yang main-main maksudnya adalah puasa yang masih menuruti hawa nafsunya, sedikit dzikirnya, dan banyak lalainya.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari sahabat Sahl bin Mu'adz radhiyallahu'anhu yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya dan Imam Ath Thobroni.
'Seorang bertanya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: Mujahidin mana yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah? beliau menjawab: Yang paling banyak dzikirnya. Ia bertanya lagi: Orang yang berpuasa yang paling banyak pahalanya? beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Yang paling banyak dzikirnya. Kemudian orang tersebut menyebutkan shalat, zakat, haji dan sedekah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab semuanya dengan sabdanya: Yang paling banyak dzikirnya. Maka Abu Bakar berkata kepada Umar Radhiyallahu anhu: Orang-orang yang selalu mengingat Allah Azza wa Jalla membawa semua kebaikan!! maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Iya.'
Hadits di atas menerangkan pentingnya dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala di setiap aktivitas yang dijalani.
Termasuk juga saat kaum muslimin menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Memperbanyak dzikir akan membantu manusia meninggalkan sesuatu yang melalaikan, seperti main video game atau menonton sesuatu yang tidak bermanfaat.
Ustadz Rizky juga menegaskan inti dari semua ibadah adalah dzikir.
"Apapun ibadahnya itu harus diisi dengan dzikir, karena yang menentukan keberkahan ibadah itu bukan gerakannya, ritualnya, tetapi dzikir yang menyambung hati kita kepada Allah," ujar Ustadz Rizky Narendra.
"Demikian pula dengan puasa. Hal yang membuat puasa kita berharga itu bukan soal menahan lapar dan minum, tetapi mengisi puasa kita, sambil menahan makan dan minum, dengan dzikir kepada Allah."
"Itu yang membuat puasa menjadi berkah," paparnya.
Sebaliknya, orang yang mengisi puasanya dengan kelalaian, dzikirnya sedikit, hal tersebut akan merugikan dirinya sendiri.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
'Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga,' hadits riwayat Ath Thobroni.
Ada juga hadits lain yang menegaskan pentingnya meninggalkan hal-hal yang merugikan diri saat puasa.
'Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan,' hadits riwayat Bukhari no. 1903.
Puasa yang dipenuhi hal-hal yang membuat lalai tak akan memberikan manfaat bagi sang pelaksana.
Walaupun puasa itu dilakukan selama bertahun-tahun, hal tersebut tak akan membuahkan takwa yang menjadi hasil akhir dari ibadah tersebut, sebagaimana yang disebutkan di Quran surat Al Baqarah ayat 183.
'Yaa ayyuhalladzina 'amanu kutiba 'alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qablikum la'allakum tattaquun'.
Artinya, 'Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.'
Untuk itu, kaum muslimin hendaknya memenuhi ibadah puasanya dengan memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menghindari hal-hal yang dilarang sang Pencipta Alam Semesta. (*)
(Tribunnews.com/Guruh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Buka-Puasa-Bersama-di-Masjid-Istiqlal_20260220_204656.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.