Senin, 13 April 2026

Ramadan 2026

Mutiara Ramadan, Berdamailah dengan Musibah, Jangan Takut

Ujian hidup seperti musibah.Jangan takut menghadinya degan iman.  Ini penjelasan  Menag Nasaruddin Umar dalam Mutiara Ramadan Tribun.

Tribunnews/Fahdi Fahlevi
MUTIARA RAMADAN - Ujian hidup seperti musibah.Jangan takut menghadinya degan iman.  Ini penjelasan  Menag Nasaruddin Umar dalam Mutiara Ramadan Tribun. 

Mutiara Ramadan Hari Keenam


Oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ujian hidup seperti musibah bak dinamika. Jangan takut menghadinya degan iman.  


Berikut penjelasan  Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar dalam Mutiara Ramadan Tribunnews.com. 

Di mana ada ujian di situ ada kenaikan kelas.Tanpa ujian sulit menggapai kenaikan kelas. Musibah itu ujian, jangan takut menghadapi ujian karena hanya dengan ujian martabat kita bisa meningkat.

Baca juga: Mutiara Ramadan, Puasa Obat Mujarab Menghilangkan Stres


Kematangan seseorang diuji dengan berbagai tantangan, bahkan cobaan. Hanya saja masih jarang orang menyadari bahwa musibah dan penderitaan adalah ujian kenaikan kelas. 


Jikackita merenung dan berkontemplasi sejenak, maka memang benar bahwa di balik setiap musibah
dan penderitaan selalu ada rahasia Tuhan yang sulit ditebak. Banyak ayat dalam Alquran
mengajak kita untuk bersabar menghadapi musibah karena ternyata musibah adalah surat cinta
Tuhan kepada hamba yang dikasihinya.
 
Suatu saat Nabi Yusuf berdoa: “Rab al-sijn ahbbu ilaiyya” (Ya Allah penjara aku lebih
sukai) (Q.S. Yusuf/12:33). Ini diungkapkan ketika ia dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang
bertentangan dengan hati nuraninya. Ia memilih hidup menderita di ruang gelap dan sempitnya
penjara ketimbang gemerlapnya istana yang ditawarkan kepadanya. 


Ternyata bukan hanya Nabi Yusuf, sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia memiliki daftar panjang nama-nama yang rela menderita demi untuk meraih keerdekaan untuk anak-cucunya.  


Mungkin, kita pernah mengalami dalam kadar tertentu. Ini membuktikan bahwa ternyata penderitaan tidak selamanya menyakitkan tetapi kadang dirasa lebih asyik, karena boleh jadi merasa sedang bersama denganTuhan. 


Banyak orang yang bukan Nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenagan batinnya, ketimbang bahagia secara fisik tetapi menderita secara batin. 


Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidak nyamanan bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, jika suasana batinn aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan. 


Penyakit yang mendera Nabi Ayyub sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya ia dibuang di sebuah gua di pegunungan di luar perkampungan, ia tiba-tiba mengatakan kepada para belatung di sekujur tubuhnya, kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tatbib untuk memusnahkanmu tetapi kalian tetap betah di tubuhku. 


Sekarang kalian bersenang-senanglah, karena ternyata kalian adalah sahabat setiaku. Satu-satunya yang bisa menemaniku di kegelapan gua ini hanya kalian. Ayub tidak lagi merasa sakit dari gigiran belatung-belatung itu. Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan hanyalah masalah psikologis. 


Musibah bisa diajak berkompromi. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik
lebih tinggi dari tempat semula. Banyak contoh dalam kehidupan kita musibah dijadikan sebagai
hikmah untuk lebih maju, kreatif, dan berhasil. 


Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit. Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera. 


Nikmatipenderitaan itu, niscaya kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan.Demikian pendapat para ahli anastesia. 


Penderitaan atau musibah sesungguhnya adalah “surat cinta Tuhan”. Tuhan merindukan hamba-Nya tetapi undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan tidak digubris, maka Tuhan mengubah surat undangannya dalam bentuk musibah. Musibah adalah ujian keburukan (balaun sayyiah) tetapi mengangkat martabat kemanusiaan. Jika orang ditimpa musibah maka yang paling pertama dipanggil biasanya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.


Akan tetapi jika orang diuji dengan kemewahan atau pangkat, dan jabatan, yang paling sering dihubungi, adalah makhluk Tuhan, berupa orang yang disayanginya. 


Tidak jarang di antara mereka adalah bukan muhrimnya dan sering terjadi dosa dan maksiyat karenanya. Dengan demikian, musibah dan penderitaan tidak selamanya negatif. Ingat pesannabi: “Jika Tuhan menyayangi hambanya maka siksaannya didatangkan lebih awal di dunia supaya di akhirat nanti lunas. Jika Tuhan tidak menyukai hambanya 


Dia menunda siksaan-Nya di akhirat yang amat pedih”. Hadis lain dikatakan: “Orang yang menjalani sakit demam sehari maka akan dihapuskan dosanya setahun”.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved