Jumat, 17 April 2026

Ramadan 2026

Meraih Pahala Besar di Bulan Ramadan 1447 H dengan Kekuatan Sabar

Sabar pada hakikatnya adalah kemampuan menahan diri saat ibadah puasa Ramadan memiliki pahala yang besar Allah sudah menetapkan ada posisi yang mulia.

TRIBUNNEWS.COM - Bulan Ramadan 1447 H bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi madrasah rohani untuk membentuk pribadi yang lebih sabar dan matang secara spiritual. 

Di tengah ujian fisik karena berpuasa serta tantangan emosional dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam diajak untuk memperkuat kemampuan menahan diri. 

Kesabaran inilah yang menjadi salah satu kunci utama untuk meraih derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT. 

Ramadan menghadirkan ruang latihan yang nyata: saat dihina, saat diuji, saat kehilangan, bahkan saat keinginan hati ingin segera dilampiaskan. 

Semua itu adalah kesempatan untuk memperbesar pahala melalui kekuatan sabar.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Denpasar, Drs KH Saifuddin Zaini, M.Pd.I dalam tausiyahnya di program Mutiara Ramadhan 2026 yang tayang di YouTube Tribunnews.com menyampaikan bahwa sabar pada hakikatnya adalah kemampuan menahan diri. 

"Orang yang tidak mampu menahan diri disebut tidak sabar, termasuk bersikap tergesa-gesa atau dalam istilah Jawa disebut kesusu, yakni ingin segera sebelum waktunya tiba," kata Saifuddin Zaini, dikutip Rabu (4/3/2026).

Sabar juga berarti tidak bereaksi sembarangan, tidak memberikan respons tanpa perhitungan, terlebih ketika menghadapi hinaan atau perlakuan yang menyakitkan.

"Ketika seseorang dihina, reaksi spontan sering kali muncul untuk membalas. Namun justru di situlah letak ujian kesabaran."

"Dalam sebuah riwayat yang dikutip dari kitab Attajul Jami’, diceritakan bagaimana Abu Bakar RA pernah dihina berulang kali di hadapan Rasulullah SAW dan para sahabat," sambungnya.

Dalam kisah tersebut disebutkan: "Ana rajulan kana yasubu Abu Bakrin. Ada seorang laki-laki yang menghina Abu Bakar."

Baca juga: Syarat Wajib Puasa Ramadan, Lengkap dengan Rukun dan Hal yang Membatalkan

Abu Bakar tetap diam ketika dihina pertama dan kedua kali.

Namun ketika hinaan itu terjadi untuk ketiga kalinya, beliau akhirnya membalas. 

"Lalu laki-laki itu menghina yang ketiga kalinya sudah dihina sampai tiga kali akhirnya ya berkitik apa itu dongkolnya itu ada," ucapnya.

Saat itulah Rasulullah SAW yang sebelumnya duduk bersama mereka memilih pergi. Abu Bakar pun bertanya: "Awajatta alaiya ya Rasulullah. Halabta alaiya. Apakah engkau marah kepadaku sehingga engkau pergi?"

Rasulullah SAW kemudian menjelaskan: "Nazala malakun minasama yukadzibu bimaq laka. Tadi malaikat turun dari langit membela dan mendustakan ucapan orang yang menghinamu."

Namun ketika Abu Bakar membalas, beliau bersabda: "Waqo’aitona maka datanglah setan. Aku tidak mungkin duduk bersama setan."

"Ya, jadi ini artinya apa? Kalau suatu saat kita ini dihina orang, maka sudah bertahan ya. Enggak usah memberikan respon."

"Orang Jawa bilang becik ketitik olo ketoro. Nanti yang memang benar akan muncul, yang memang salah ya sejarah akan mencatat itu ya," terangnya.

Kisah ini memberi pelajaran mendalam bahwa ketika seseorang mampu menahan diri dari membalas hinaan, malaikat turun membelanya. 

Tetapi saat emosi mengambil alih dan balasan dilontarkan, setanlah yang hadir. 

Ramadan menjadi waktu terbaik untuk melatih diri agar tidak reaktif, apalagi dalam kondisi lapar dan haus yang bisa memicu emosi.

Selain dalam menghadapi hinaan, sabar juga diperlukan dalam tiga kondisi utama: saat menjalankan kebaikan, saat menghadapi penderitaan, dan saat tertimpa musibah. 

Bahkan bisa jadi ujian yang datang kepada seseorang merupakan jalan untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan: "Innal abda idza sabaqot lahu minallahi manzilatun lam yablugha biamalihi."

"Seseorang itu kalau Allah sudah menetapkan ada posisi yang mulia, posisi tinggi, ya ibarat tangga mungkin tangga ke-100 gitu ya, derajat derajatnya tinggi." 

"Tapi ternyata amal yang ia miliki itu tidak bisa mengantarkan sampai derajat yang Allah sudah gadang-gadang, yang Allah sudah tentukan. Puasanya, salatnya, zakatnya enggak cukup untuk bisa sampai ke derajat yang tinggi itu," jelasnya.

Maka Allah akan mengujinya: "Ibtalahu fi jasadihi au fi malihi au fi waladihi." 

Allah mengujinya melalui fisiknya (jasadnya), hartanya, atau anaknya.

"Maka Allah kemudian memberikan ujian kepada orang tersebut diuji melalui jasadnya. Fi jasadihi. Mungkin sakit berkepanjangan. umurnya sebenarnya masih muda, tampilannya sudah seperti orang tua ya, tenaganya loyo ya, sudah tidak bisa berbuat banyak. Itu namanya diuji dengan melalui jasadnya," ujarnya.

Ujian fisik bisa berupa sakit berkepanjangan. 

Ujian harta bisa berupa kehilangan atau musibah yang menghabiskan apa yang telah dikumpulkan. 

Ujian melalui anak pun dapat terjadi, ketika orang tua yang saleh diuji dengan perilaku anak yang menyimpang. 

Namun jika ia mampu bersabar, maka kesabaran itu menjadi jalan pengangkat derajatnya.

Sebagaimana disebutkan: "Hatta yuballighohul manzilatallati sabaq lahu minallah."

Dengan kesabaran itu, ia akan sampai pada derajat tinggi yang telah Allah tetapkan baginya.

Ramadan 1447 H adalah momentum untuk memperkuat karakter sabar tersebut. Ketika dihina, jangan terburu-buru membalas. 

Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman. 

Bisa jadi setiap ujian yang datang adalah cara Allah menaikkan tangga derajat kita yang belum mampu diraih hanya dengan amal ibadah biasa. 

"Dengan sabar, pahala menjadi besar. Dengan sabar, kedudukan menjadi tinggi."

"Semoga Ramadan kali ini benar-benar menjadikan kita pribadi yang lebih kuat dalam menahan diri, lebih tenang dalam menghadapi ujian, dan lebih matang dalam menyikapi kehidupan. Kesabaran yang kita latih hari ini, insyaAllah menjadi jalan menuju kemuliaan di sisi-Nya," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved