Jumat, 10 April 2026

Ramadan 2026

Tarawih 8 atau 20 Rakaat? Ini Penjelasan Perbedaan Pendapat Ulama

Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap diperdebatkan. Ustaz menjelaskan keduanya memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Penulis: Widya Lisfianti
Editor: Sri Juliati
Tribun Jatim/Imam Nawawi
SALAT TARAWIH - Ratusan jemaah Pondok Pesantren Mahfilud Duror di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Jember melaksanakan salat Tarawih 23 rakaat pada Senin (16/2/2026) malam. Puasa mereka dimulai Selasa (17/2/2026), lebih awal dibanding ketetapan pemerintah. 

Ringkasan Berita:
  1. Ulama berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat salat tarawih.
  2. Tarawih 11 rakaat merujuk pada praktik salat malam Nabi.
  3. Tarawih 20 rakaat juga memiliki dasar dari praktik para sahabat.

TRIBUNNEWS.COM - Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih sering menjadi perdebatan di kalangan umat Islam. 

Sebagian menjalankan 8 rakaat ditambah 3 rakaat witir, sementara sebagian lainnya melaksanakan 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir.

Dalam program Tanya Ustadz episode 16 bertajuk “Mana yang Lebih Tepat, Salat Tarawih 8 Rakaat atau 20 Rakaat?” yang tayang di YouTube Tribunnews pada 6 Maret 2026, H. Faishal Abdan Syakura menjelaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar karena para ulama memang memiliki pandangan yang berbeda.

Menurutnya, perbedaan tersebut bukan untuk menentukan mana yang salah, melainkan mana yang lebih utama menurut pandangan masing-masing ulama.

Dasar Tarawih 11 Rakaat

Faishal menjelaskan bahwa praktik salat malam sebanyak 11 rakaat merujuk pada riwayat dari Aisyah yang menjelaskan kebiasaan Nabi Muhammad dalam menjalankan salat malam.

Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Nabi tidak pernah menambah jumlah rakaat salat malam di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari 11 rakaat, yaitu delapan rakaat salat malam dan tiga rakaat witir.

Riwayat ini menjadi salah satu dasar bagi sebagian umat Islam yang menjalankan salat tarawih sebanyak 11 rakaat.

Dasar Tarawih 20 Rakaat

Namun, ia menegaskan bahwa praktik salat tarawih sebanyak 20 rakaat juga memiliki dasar dalam sejarah Islam. 

Tradisi tersebut disebut berasal dari masa kepemimpinan Umar bin Khattab, salah satu sahabat Nabi.

Baca juga: Fadhilah Tarawih Malam 1-30 Ramadan, Ini Keutamaannya

Pada masa itu, Umar mengumpulkan kaum muslimin untuk melaksanakan salat tarawih berjamaah dan menunjuk Ubay bin Ka'ab serta Tamim ad-Dari sebagai imam. 

Dalam praktiknya, salat tarawih dilakukan sebanyak 20 rakaat dengan bacaan yang lebih singkat.

Menurut Faishal, praktik tersebut tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain sehingga menjadi salah satu dasar yang dipegang banyak ulama.

Tidak Perlu Dipertentangkan

Faishal menegaskan bahwa baik tarawih 11 rakaat maupun 20 rakaat sama-sama memiliki landasan dalam tradisi keilmuan Islam. 

Karena itu, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi bahan perdebatan yang memicu perselisihan di tengah umat.

Ia juga menyebut bahwa mayoritas ulama dari berbagai mazhab membolehkan pelaksanaan salat tarawih dengan 20 rakaat.

Menurutnya, yang lebih penting adalah menjaga persatuan dan tidak saling menyalahkan dalam perkara yang memang memiliki ruang perbedaan pendapat.

“Baik 11 rakaat maupun 20 rakaat memiliki dasar. Keduanya boleh dilakukan dan tidak seharusnya menjadi bahan pertengkaran,” jelasnya.

(Tribunnews.com/Widya)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved