Bayi Lahir Tanpa Tempurung Kepala di Bangka
EUIS (32) masih terbaring lemah di atas tempat tidur ruang Mawar Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang, setelah menjalani operasi caesar saat melahirkan putra keduanya, Selasa (30/3 lalu).
Sorot mata warga Desa Sinarjaya Kecamatan Sungailiat itu menyiratkan kesedihan. Putra Euis terlahir tak sempurna. Bayi yang lahir dengan bobot 2,2 kilogram itu tidak memiliki tempurung kepala. Saat ini bayi mungil itu dirawat dalam inkubator. Selang oksigen dan infus terpasang di tubuhnya yang terbalut kain bedong berwarna putih.
Kelainan pada kandungan telah dirasakan Euis ketika kandungannya berusia tujuh bulan. Menurut sang adik yang seharihari bekerja sebagai bidan di Desa Simpangrimba, kandungan kakaknya kelihatan kecil dan pada saat diraba di dalam kandungan terdapat ruang kosong.
"Biasanya kandungan yang memasuki tujuh bulan itu sudah penuh, tapi kok ini banyak ruang kosongnya," tutur Euis menirukan ucapan sang adik.
Karena khawatir terhadap janin yang dikandungnya, Euis sempat konsultasi ke bidan Puskesdes Sinarjaya, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Bidan menyarankan Euis memeriksakan kandungannya ke dokter dengan cara USG. Pada saat kandungan memasuki usia delapan bulan, Euis melakukan USG. "Dari hasil USG, dokter mengatakan janin saya ada susfect kelainan di kepala," ungkap Euis.
Karena masih penasaran, Euis datang lagi ke bidan. Ia kembali disarankan agar periksa ke dokter lain guna memastikan hasil USG terhadap kandungannya. Ternyata hasilnya sama.
"Kata dokter, kandungan saya terkena virus tokso, yang menyerang tempurung kepala bayi. Saya akan melahirkan bayi tanpa tempurung kepala dan biasnya bayi tidak bertahan lama," ungkap Euis menirukan penjelasan dokter.
Menurut dokter tersebut, virus tokso (toxoplasma) ditularkan dari hewan seperti, kucing, anjing dan ayam. Dokter sempat menanyakan pada Euis, apakah memelihara kucing. "Saya jawab enggak. Tetapi banyak anjing liar di sekitar tempat tinggal saya, tidak terhitung berapa jumlahnya," ujar Euis.
Sementara, meski keterangan dua dokter yang memeriksa kandungan Euis mengatakan janin yang dikandung Euis terkena virus tokso, dr Sofyan Lubis yang merawat Euis di RSBT, saat dikonfirmasi harian ini belum bisa memastikan apa penyebab kelainan pada bayi Euis.
"Saya belum bisa memutuskan apa penyebab kelainan pada bayi itu," ujar Sofyan.
Euis dan suaminya Pella (35), hanya bisa berdoa dan pasrah atas nasib putra kedua mereka. Pasangan suamiistri ini cukup tegar menghadapi kenyataan yang menimpa keluarganya.
"Saya menginginkan yang terbaik untuknya. Kami tidak menyalahkan hewan liar atau siapapun, ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa," ujar Pella lirih.
Pella berencana memeriksakan darah sang istri untuk melihat apakah masih ada virus tokso yang menjadi penyebab bayinya terlahir tanpa tempurung kepala.
"Kami melakukannya untuk rencana ke depan, karena siapaun juga pasti menginginkan yang terbaik, apalagi kemungkinan istri sayah)melahirkan tinggal satu kali lagi," ujar Pella.
Euis sudah dua kali menjalani operasi caesar, pada saat melahirkan anak pertama dan kedua. Menurut perhitungan medis, jika seorang ibu sudah dua kali menjalani operasi caesar, kemungkinan masih satu kali untuk melahirkan anak. (*)