Bocah Perokok
Didatangi, Sandi Ngumpat Kak Seto
Sandi Adi Susanto bocah berusia 4 tahun asal Malang yang sudah menjadi perokok berat dan hobi bicara kotor. Senin (5/4/2010) kemarin dengan polos misuhi (mengumpat) kepada Kak Seto Ketua Komnas Perlindungan Anak.
“Sopo yo? (Siapa ya?),” kata Sandi menyambut Kak Seto, seperti dituturkan Amir Pesek.
Dengan ramah, Kak Seto menjawab bahwa dia adalah teman dan berupaya mengajak Sandi bermain dan sempat ditantang panco. Disela-sela perbincangannya tiba-tiba Sandi bertanya sambil mengumpat kepada Kak Seto
“Opo awakmu iku jancxxxk (Apa kamu itu jancxxxk),” tanya Sandi, dituturkan Sinyo. Mendengar perkataan Sandi, Kak Seto hanya tersenyum.
Sebelumnya, Kak Seto yang siang itu mengenakan baju batik merah dipadu celana hitam, sempat memeluk dan menyalami Sandi. Ketika ditanya Kak Seto kalau sudah besar ingin jadi apa, Sandi menjawab ingin jadi tentara.
Sinyo yang mendampingi Sandi sempat mengingatkan bocah itu untuk tidak bicara kotor. Dalam pertemuan itu juga, Sandi mengajak Kak Seto adu panco.
“Ayo kuat-kuatan,” tantang Sandi.
Lelaki berkaca mata ini langsung mengiyakan. Kak Seto lalu adu panco dengan Sandi. “Aduh saya kalah, nyerah-nyerah deh,” kata Kak Seto. Sandi pun kegirangan. “Ah, kalah karo aku (Ah, kalah dengan aku),” kata bocah kelahiran 18 Februari 2006 ini gembira.
Pingsan
Di tengah-tengah Kak Seto menemui Sandi, kedua orangtua Sandi sempat ketakutan dirinya dipisahkan dengan buah hatinya. Akibatnya Sepulang dari Puskesmas sekitar pukul 11.45 WIB diantar suaminya. Mulud Riadi (bapak Sandi). Mujiati (ibu Sandi), yang baru saja berobat dari puskesmas tiba-tiba jatuh pingsan begitu sampai di mulut gang rumah.
Mengetahui Mujiati ambruk, para wartawan langsung menggotongnya menuju rumah yang berjarak sekitar 20 meter. ”Saya khawatir dipenjara dan Sandi dibawa keluar kota. Saya tak ingin dipisahkan dengan Sandi,” kata Mujiati setelah siuman.
Setelah diberi penjelasan oleh Sekretaris LPA Jatim, Priyono Adi Nugroho, dan LPA Malang, Tedjo Bawono, tentang kedatangannya bukan untuk memenjarakan dan memisahkan Sandi dengan orangtuanya, tetapi untuk merehabilitasi Sandi agar bisa kembali ke dunia anak-anak, Mujiati dan Mulud Riadi baru bisa plong.
”Kami sangat senang kalau Sandi disekolahkan. Apalagi, kami diberi bantuan biaya pendidikan,” katanya senang. (surya.co.id*)