Sabtu, 13 Juni 2026

Rusuh Kuantan Singingi

Empat Buah Bra Buat Polda Riau

Hari kedua pascabentrok antara aparat Polres Kuansing dan warga Desa Koto Cengar, Kuantan Mudik, Kuansing, Rabu (9/6/2010), sekitar 300 warga masih tetap melakukan pemblokiran dan berkumpul di lokasi kerusuhan.

Tayang:
Laporan Wartawan Tribun Pekan Baru Rino Syahril dan Raya Desmawanto

TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU - Hari kedua pascabentrok antara aparat Polres Kuansing dan warga Desa Koto Cengar, Kuantan Mudik, Kuansing, Rabu (9/6/2010), sekitar 300 warga masih tetap melakukan pemblokiran dan berkumpul di lokasi kerusuhan. Warga tetap mendesak dan meminta agar pihak PT Tri Bakti Sarimas (TBS) segera menyerahkan hak mereka yang selama ini tidak pernah diberikan oleh pihak PT TBS.

Menurut Joni (30) warga Desa Lubuk Romo kepada Tribun saat dihubungi Rabu sore, saat ini sekitar 300 warga dari empat desa masih berkumpul dan memblokir jalan dari kebun menuju PT TBS. "Dan pemblokiran ini kami hentikan setelah pihak perusahaan membayarkan semua hak kami," ujar Joni. Dikatakannya, sekitar pukul 11.00 WIB Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Sukarmis bersama Setdakab Zulkifli bertakziah ke rumah duka Yusniar (45), warga Desa Seberang Cengar, Kenegerian Pucuk Rantau, Kecamatan Kuantan Mudik.
   
Bupati Sukarmis saat itu juga menyerahkan bantuan sagu hati kepada keluarga korban. Namun Bupati tidak mengikuti proses pemakaman. Korban di makamkan di pekuburan umum desa setempat sebelum tengah hari. Sedangkan Kapolres Kuansing AKBP RA Kasenda tambah Joni, hingga siang belum tampak mukanya hadir ke rumah Yusniar. "Saat ini kami masih berduka, dan setelah ini kami akan memikirkan langkah selanjutnya yang kami ambil," ucapnya.
   
Ketika ditanya apakah benar ada dua warga lagi yang tewas seperti yang disampaikan sebelumnya ke Tribun, Joni mengatakan, ternyata setelah dicek kelokasi malam itu juga tidak ada ditemui dua warga yang tewas itu.

"Memang sebelumnya ada warga mengaku melihat dua mayat di lokasi dan sudah dikerubungi semut. Saat kita cek ternyata tidak ada dan yang dilihat itu adalah kayu," ucapnya.
   
Sementara itu aksi simpatik dan dukungan dari Ikatan Pemuda Mahasiswa Kuansing dan Lembaga Swadaya masyarakat (LSM) di Riau terus bergulir terhadap Yusniar dan Disman serta warga Kuantan Mudik, Kuansing. Mahasiswa dan LSM sangat mengecam aksi biadab yang dilakukan oleh aparat Polres Kuansing dan Brimob Polda Riau.
   
Untuk menumpahkan rasa kekesalan mahasiswa terhadap Kapolda Riau Brigjen Adjie Rustam Ramdja dan Kapolres Kuansing AKBP RA Kasenda, Rabu (9/6/2010) mahasiswa dan LSM lakukan unuk rasa ke Mapolda Riau. Aksi pertama dilakukan oleh massa di bundaran air mancur depan kantor Walikota Pekanbaru, sambil membawa spanduk dan poster ukuran besar korban Yusniar terbujur kaku kena tembak petugas massa terus meneriaki agar Kapolda Riau dan Kapolres Kuansing dicopot dari jabatannya.
     
Koordinator aksi Irhayanai dalam orasinya mengatakan, tindakan aparat Polres Kuansing dan Brimob Polda Riau di Kuantan Mudik, Kuansing memang sangat tidak manusiawi, karena pihak kepolisian hanya berpihak kepada pihak perusahaan dan untuk membubarkan warga mereka melakukan tembakan dengan puluru asli. Akibatnya seorang janda beranak empat Yusniar tewas dihujam peluru aparat yang tepat mengenai dadanya. "Apakah ini protap Kepolisian menertibakan unjuk rasa, apalagi terhadap kamu perempuan," ucapnya.
     
Setelah puas menyampaikan orasinya di bundaran air mancur depan kantor Walikota Pekanbaru belasan massa berjalan kaki menuju Mapolda Riau, dan akibatnya jalan Jenderal  Sudirman menuju pelita pantai mengalami macet yang panjang. Setibanya di depan pagar pintu masuk Mapolda Riau massa kembali melakukan orasinya, dan orasinya itu silih berganti dilakukan oleh massa termasuk juga massa dari aktivis lingkungan hidup.
   
Massa yang sudah terlalu kesal dengan aparat kepolisian akhirnya menghadiahkan empat buah Bra kepada petugas Samapta yang berdiri dipintu masuk Mapolda Riau. Namun Bra yang diserahkan massa tidak diterima oleh petugas, hingga akhirnya massa menempelkan Bra itu ke ujung sepatu petugas. Setelah puas melakukan orasinya, Irhayanai membacakan pernyatan sikapnya, dan meminta agar Bupati Kuansing Sukarmis turun dari jabatannya, serta mencabut perizinan PT TBS.

Gubernur Riau Rusli Zainal melalui juru bicara pemerintah daerah, Rizka Utama, Rabu (9/6) menyatakan, Gubernur prihatin atas tragedi yang merenggut nyawa manusia itu. Ia menyesalkan kasus itu tidak bisa ditangani dengan cepat hingga menyebabkan emosi masyarakat memuncak. Justru yang terjadi, polemik pengelolaan koperasi makin berkepanjangan. "Ini puncak dari tidak bisa diselesaikannya masalah itu sejak dini. Tak harus sampai menewaskan manusia. Gubernur prihatin dan meminta pemerintah setempat segera menyelesaikannya. Jangan lukai rakyat," kata Rizka.

Kepala Kepolisian Resor Kuantan Singingi (Kuansing) AKBP RA Kasenda mengatakan tidak ada satu pun warga yang ditahan terkait bentrokan berdarah di areal perkebunan kelapa sawit plasma di Desa Koto Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kunsing. "Warga yang kami amankan sekitar 11 orang saat bentrok itu sudah kami lepaskan juga tadi malam, dan mereka hanya dimintai keterangan saja," ucapnya
      
Dalam bentrokan itu tambahnya, empat anggotanya mengalami luka-luka, dua luka bacok yakni Bripka Hendri Hidayat dan Briptu Hendri. Lalu dua luka kena lemparan batu yakni Bripka Eko Fernando dan Bripda Lukman Hasibuan. Mengenai tewasanya Yuniar ditembak anggota Polisi, Kasenda belum bisa memastikan. "Yang jelas kasus itu masih dalam penyelidikan kami, dan kami melihat ada dua luka di dada korban yang tewas. Bahkan sejumlah selosong peluru berserakan tak jauh dari jasadnya," kata Kasenda. Sementara itu Komandan Kompi V Brimob Polda Riau Ipda Deni Rohman kepada Tribun membantah ada warga menemukan baret angggotanya. "Saat saya cek ternyata baret anggota saya semuanya lengkap dan tidak ada yang hilang. Jadi kemungkinan itu bisa baret anggota lain," ucapnya.

Menurut Diektur Operasi PT TBS Gunawan yang dihubungi Tribun mengatakan, kejadian kemarin sebenarnya tidak perlu terjadi apabila petani plasma dapat bersabar.

"Karena  rencananya, Sabtu (12/6/2010) kita akan melakukan Rapat Tahunan KUD membahas permasalahan ini," ucapnya.

Atas peristiwa ini kata Gunawan pihaknya merasa prihatin. "Untuk itu kami bersedia membantu para korban, tapi kami minta semua pihak menahan diri dan tidak melakukan aksi-aksi baru yang dapat memanaskan suasana lagi," ujar Gunawan.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved