Minggu, 17 Mei 2026

Merapi Meletus

Sultan: Mbah Maridjan Salah Persepsikan Tugasnya

Mbah Maridjan yang salah mempersepsikan tugasnya sebagai abdi dalem kraton.

Tayang:
Penulis: Adi Suhendi
Editor: Prawira
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyaknya korban yang meninggal di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, diakibatkan Mbah Maridjan yang salah mempersepsikan tugasnya sebagai abdi dalem kraton.

Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, tugas Mbah Maridjan adalah mengelola acara tahunan Kraton Yogyakarta di Gunung Merapi. “Memang ia diberikan tugas dari Kraton untuk melakukan acara di Merapi setiap tahun, bukan sebagai juru kunci. Tetapi pemahaman itu tidak terjadi,” jelas Sri Sultan, Rabu (27/10/2010).

Ada dua sisi yang harus disikapi dari sikap yang membuat Mbah Maridjan dilematis. Satu sisi dia sebagai orang yang sudah berusia 83 tahun yang harus melaksanakan intruksi pemerintah. Disatu sisi sebagai juru kunci ia wajib melaksanakan tugasnya. “Hal itu seperti prinsip tentara, dari pada tidak melaksanakan kewajibannya lebih baik dia mati,” ujarnya.

Sebenarnya pejabat setempat pun termasuk wakapolda sudah membujuh Mbah Maridjan untuk turun gunung, tetapi saat ia akan turun tiba-tiba saja awan panas dating. “Awalnya ia (Mbah Maridjan) bersedia untuk turun setelah shalat maghrib. Sebelum turun, ketika ia sedang shalat awan panas terburu dating,” terang Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, banyak warga sekitar yang sudah turun gunung, tetapi ada tim yang berusaha membujuk Mbah Maridjan untuk turun termasuk wartawan yang akhirnya mereka meninggal terkena awan panas.

“Saya kira penanggulangan untuk letusan Gunung Merapi sudah maximal seperti tahun sebelumnya. Tapi karena di Desa Kinahrejo ada Mbah Maridjan, orang lebih percaya kepada Mbah Maridjan, ini yang sering kita punya problem. Ia (Mbah Maridjan) dikenal orang lebih akrab dengan alam,” paparnmya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved