Peluru Siapa yang Menembus Leher Cecep hingga Punggung?
Peluru siapa yang menembus leher sampai punggung Junaidi bin Abdul Halim alias Adi Cecep (22) hingga tewas? Masih misterius.
TRIBUNNEWS.COM, NUNUKAN- Peluru siapa yang menembus leher sampai punggung Junaidi bin Abdul Halim alias Adi Cecep (22) hingga tewas? Benarkah pelakunya oknum TNI AL? Masih misterius.
Insiden penembakan yang terjadi di Oke Karaoke, tempat hiburan dekat Den POM Nunukan itu hingga kini masih terus diselidiki.
“Karena kejadiannya itu didepan Sub Den POM, diduga ada tembakan dari POM. Tapi itu baru cerita dan dugaan, itu belum pasti. Karena ada kejadian itu, Komandan Den POM Samarinda turun langsung ke lokasi," ujar Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI Mulawarman Letkol Suwarjiyana, Selasa (30/11/2010)
merintahkan bawahannya ke Nunukan untuk menyelidiki kasus tersebut. Penembakan warga sipil di Nunukan menjadi perhatian para petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dalam kasus yang menewaskan Adi Cecep itu, Pangdam VI/ Mulawarman Mayjen TNI Tan Aspan langsung memerintahkan pengusutan atas kasus itu.
Pertemuan pun sudah digelar, antara pimpinan TNI AD dari unsur TNI AL sepakat mendukung pengusutan kasus penembakan tersebut dan mempercayakan kepada Polres Nunukan.
“Intinya kita TNI mendukung Polres mengusut kasus ini. Siapapun dia dari TNI AL atau TNI AD, Polisi harus mengungkap tuntas kasus itu,” kata Danlanal Nunukan Letkol laut (P) Rachmad Jayadi.
Rachmad mengakui, di sekitar Tempat Hiburan Malam (THM) Oke Karaoke pada saat itu, memang ada anggota TNI AL yang melakukan pengamanan. Namun aparat yang ditugaskan pada saat itu tidak membawa senjata.
“Dan anak-anak di sana kenal semuanya dengan anggota saya. Jadi kecil kemungkinan anggota TNI AL yang melakukan penembakan,” ujarnya.
Selama ini di jajaran TNI Angkatan Laut sangat terbatas yang memegang pistol seperti yang digunakan pelaku penembakan. “Di TNI yang punya senjata seperti itu yang pegang saya satu, saya punya tetapi tidak dibawa ke mana-mana,” ujarnya.
Meskipun demikian, pihaknya tidak ingin bertindak mendahului dengan melakukan pengumpulan senjata di jajarannya. “Kalau saya mengumpulkan duluan malah saya dicurigai. Kalau saya kumpulkan dulu, nanti bisa saya amankan senjatanya,” ujarnya.
Komandan Detasemen (Dandem) POM Korem 091 Aji Surya Nata Kesuma (ASN) Samarinda, Letkol CPM Hartono SH MH beserta sejumlah anggotanya telah diturunkan ke Nunukan untuk menyelidiki kasus tersebut.
Kasat Reskrim Polres Nunukan AKP Indratmoko mengatakan, pihak kepolisian harus berkoordinasi dengan Den POM dalam kasus itu. Untuk menentukan senjata organik atau tidak, Den POM akan menginventarisir senjata TNI yang ada di Nunukan.
“Dan yang punya kewenangan mereka, kita tidak bisa. Makanya kita koordinasi dengan mereka karena yang punya kewenangan memeriksa TNI kan mereka. Kami melakukan penyelidikan sebatas kewenangan kita dong,” ujarnya.
Jika setelah dilakukan penyelidikan ternyata senjata yang digunakan untuk menembak bukan organik, maka sudah menjadi tugas pihak kepolisian untuk mengungkap hal tersebut.
“Kan senjata rakitan juga banyak. Yang rakitan mirip saja dengan yang asli. Yang rakit juga orang dari Bandung. Memang proyektilnya kita belum ketemu, selongsong saja yang ditemukan. Itu tembak dekat, mantul kan ada titik di TKP itu mantul. Proyektilnya mantul ke mana belum kita ketahui. Selongsong sudah kita amankan, masih kita periksa jenis apa, kaliber berapa? Dari senjata organik atau rakitan?” ujarnya. (*)