Kelenteng Talang Miliki Sejarah Kota Cirebon
Kelenteng Talang berdiri tidak jauh dari Vihara Dewi Welas Asih. Untuk bisa mencapainya, cukup berjalan kaki ke arah Gedung BAT
TRIBUNNEWS.COM, CIREBON - Selain Vihara Dewi Welas Asih di Jalan Pelabuhan No 2, ada satu lagi tempat ibadat warga Tionghoa yang memiliki kisah sejarah di Kota Cirebon. Tempat ibadat itu bernama Kelenteng Talang. Dinamakan demikian, karena memang kelenteng tersebut berada di Jalan Talang.
Kelenteng Talang berdiri tidak jauh dari Vihara Dewi Welas Asih. Untuk bisa mencapainya, cukup berjalan kaki ke arah Gedung BAT, kemudian belok kiri ke Jalan Talang. Jarak dari Vihara Dewi Welas Asih hanya sekitar 200 meter.
Ada beberapa versi yang menyebutkan asal-muasal pembangunan Kelenteng Talang. Versi pertama menyebutkan, Kelenteng Talang dibangun sebagai rumah duka atau dalam bahasa Tionghoa disebut yi ci. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, kelenteng tersebut tidak sebatas sebagai rumah duka. Banyak warga datang untuk berdoa, berdiskusi, dan belajar agama Konghucu.
Bahkan, di samping bangunan kelenteng terdapat sebuah bangunan sederhana yang kini berfungsi sebagai aula. Di aula itulah, warga Tionghoa belajar agama dan tradisi sosialnya.
"Dulu, bangunan tersebut digunakan sebagai penginapan para bikhu. Tempat menginapnya para pemuka agama Konghucu," kata pengamat sejarah Tionghoa yang juga penulis buku Budaya Etnis Tionghoa Cirebon, Jeremy Huang Wijaya.
Versi kedua menyebutkan Kelenteng Talang merupakan tempat tinggal bendahara dan kepala bagian logistik Kesultanan Kasepuhan bernama Tan Sam Tjai Khong atau Raden Aria Wiracula. Tan Sam Tjai tinggal cukup lama di bangunan tersebut, yang kemudian berubah fungsi menjadi kelenteng.
Nama Tan Sam Tjai cukup tenar di kalangan Keraton Kasepuhan Cirebon. Selain sebagai bendahara dan kepala bagian logistik, konon pria yang dimakamkan di belakang Pasar Pagi Kota Cirebon itu juga seorang arsitek. Satu dari karya arsitekturnya adalah Tamansari Gua Sunyaragi di Jalan Brigjen Dharsono, Kota Cirebon. (*)