Senin, 27 April 2026

Ritual Sembahyang Kubur Besok Dimulai

Tradisi ritual sembahyang kubur yang dilaksanakan setiap tahun dua kali oleh masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Steven Greatness

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Tradisi ritual sembahyang kubur yang dilaksanakan setiap tahun dua kali oleh masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat pada tahun ini akan diawali oleh enam yayasan pemakaman Kota Pontianak yang jatuh pada hari ini (Minggu, 31/7/2011) hingga Minggu (14/8/2011) mendatang.

Keenam yayasan yang melakukan ritual sembahyang kubur di hari pertama adalah Yayasan Halim, Yayasan Makmur, Yayasan Sungai Jernih, Yayasan Surya Makmur, Yayasan Tanjung Harapan, dan Yayasan Nilam.

Tradisi sembahyang kubur yang kedua ini, menurut penanggalan Imlek setiap tahunnya dilaksanakan pada tanggal 1-15 bulan 7 Imlek yang juga disebut dengan sebutan ritual Cung Yuan atau Shi Ku.

Menurut Budayawan Tionghoa Kalbar, Lie Sau Fat, sembahyang kubur Cung Yuan dilakukan oleh sebagian etnis Tionghoa yang menganut ajaran Buddha, Taoisme, Khonghucu, serta lainnya. Hari terakhir sembahyang Cung Yuan dilakukan upacara penutupan perebutan yang dinamakan Yi Lan Sen Hui (Chiong Shi Ku dialek Hakka, dan Chio Si Kow dialek Tio Ciu).

Sementara pada acara puncaknya dilakukan pembakaran kapal kertas (Jong Son) yang berisi segala kebutuhan sehari-hari di dunia fana, baik yang terbuat dari kertas, maupun dari acara Yi Lan Sen Hui yakni dari persembahan sembahyang seperti buah-buahan, nenas, keladi, umbi, sayur-sayuran dan sebagainya.

"Tujuan perebutan ini, ialah membubarkan secara halus berakhirnya Yi Lan sen Hui/Shi Ku yang telah disediakan sepanjang hari tanggal 15 bulan 7 Imlek. Supaya roh kembali ke tempat asal masing-masing dengan tenang dan damai serta dengan harapan akan berkumpul kembali tahun yang akan datang," ujar XF Asali nama lain Lie Sau Fat.

Ketua Umum Yayasan Bhakti Suci (YBS), The Iu Sia, mengatakan sembahyang kubur yang dimulai Minggu (31/7) merupakan ritual sembahyang yang terakhir pada tahun ini, karena setiap tahunnya masyarakat Tionghoa dua kali melaksanakan sembahyang kubur, yakni Ceng Beng/Ching Ming dan Cung Yuan.

"Sembahyang kubur adalah tradisi etnis Tionghoa Kalbar sebagai tanda bhakti pada leluhur yang sudah tiada atau yang telah meninggalkan kita," ungkapnya.

Ritual sembahyang kubur akan ditutup oleh Yayasan Bhakti Suci pada hari terakhir yang akan diikuti dengan prosesi pembakaran kapal kertas atau Wang Kang. Ke depan diharapkan ritual pembakaran Wang Kang dapat dijadikan agenda pariwisata pemerintah.

"Oleh karena itu, kita imbau pemerintah dan aparat keamanan agar dapat memberikan dukungan dan suasana yang aman kepada masyarakat Tionghoa dalam menjalankan ritual sembahyang kubur. Sedangkan pada masyarakat diharapkan dapat tertib melaksanakan sembahyang kubur," harap Asia.

Ia menambahkan, ritual sembahyang kubur juga dapat memberikan dampak multiefek yang luas dan positif. Sebab, pengalaman tahun-tahun sebelumnya, setiap pelaksanaan sembahyang kubur akan memberikan keuntungan tersendiri bagi tiket pesawat, hotel, restoran, dan sektor lainnya.

Ketua Umum DPP MABT Kalbar, Harso Utomo Suwito, mengatakan sembahyang kubur yang dimulai besok (hari ini) merupakan yang kesekian kalinya sehingga menjadi bahan untuk menata diri agar menjadi lebih baik serta melakukan evaluasi dan masing-masing berbenah diri.

"Sembahyang kubur lebih bermakna sebagai upaya instropeksi diri kembali terhadap ritual. Khususnya tentang kebaikan dan ajaran positif dari leluhur atau orangtua yang sudah tiada. Selain itu merupakan kesempatan saling bersilaturahmi sesama sanak keluarga," ungkapnya.

Harso berharap, masyarakat yang melaksanakan sembahyang kubur dapat proaktif mematuhi petunjuk yang sudah diberikan oleh masing-masing pengurus yayasan. Sedangkan kepada simpatisan, khususnya perparkiran dan pembersih makam dapat memberikan jasa yang nyaman kepada masyarakat Tionghoa yang melaksanakan sembahyang.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved