Jembatan Tenggarong Ambrol
Jembatan Ambrol Diduga Logam dan Ikatan Kabel Tak Kuat
JEMBATAN harusnya tahan, tidak bergerak ke kiri dan kanan. Baik yang bertumpu di bawah, maupun yang digantung.
News Analysis
Budi A Sukada
Ketua Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia 2008-2011
JEMBATAN harusnya tahan, tidak bergerak ke kiri dan kanan. Baik yang bertumpu di bawah, maupun yang digantung.
Di Amerika, banyak jembatan. Banyak kejadian ditiup angin lalu dia miring. Kalau jembatan ditopang dari bawah, yang harus kuat adalah kremonanya.
Kalau dibalik, jadinya dia digantung kan. Jadi sama saja. Yang terpenting dalam pembangunan jembatan adalah pertemuan antara badan jembatan dengan kremona.
Kalau di balik dengan cara gantung, yang penting dari kabelnya dengan gantungannya ketemu badannya.
Makanya, biasanya untuk mencegah begini, setelah digantung, di bagian bawah ditambah lagi. Dipasang kabel juga. Untuk mencegah goyang turun naik, ikatan dari kabel dan gantungannya harus benar-benar kuat dan menggunakan pemasangan berteknologi canggih.
Kalau dilihat goyangnya bukan hanya dari kiri dan kanan, tapi atas dan bawah. Dia (Jembatan Tenggarong) cuma gantung, bikin kabel. Memang mengerikan. Saya pernah ke sana, merasakan tidak enak.
Bisa jadi karena memilih logamnya juga tidak benar. Bukan dari kualitas bagus, tidak dilapisi anti karat. Dengan model begitu, memang tidak tahan lama.
Ini bukan soal arsitektur, tapi lebih kepada struktur. Yang harus benar-benar ditanya soal ambrolnya jembatan ini adalah ahli sipil.
Menurut saya, baik kabel maupun penggantungnya tidak stabil. Karena ketika melewati jembatan itu, dia berputar atas bawah.
Yang saya dengar, inspirasi jembatan ini dari jembatan Golden Gate di Amerika. Tapi, Golden Gate itu dibuat dengan sangat hati-hati.
Penghitungannya dilakukan lebih dari setahun karena waktu itu masih manual, belum ada komputer. Gambarnya ribuan lembar. Makanya bisa bertahan sampai sekarang.
Menurut saya jembatan ini desainnya tidak jelas. Selain itu, juga tidak jelas berapa kemampuan jembatan untuk dilewati kendaraan. Kalau sering dilewati kendaraan yang mengangkut alat berat, besar kemungkinan rusak.
Dalam masa perbaikan saat ini, saya ragu kalau itu menjadi penyebab runtuh. Lihat saja nanti datanya, yang membuat siapa, yang memperbaiki siapa.
Yang memperbaiki pasti kontraktor nasional. Makanya harus benar-benar diperiksa. Pemeriksaan melibatkan inspektur bangunan. Di DKI pengawas ada, di bawah Dinas Pekerjaan Umum.
Membantu polisi menjelaskan, mana yang salah. Siapa yang salah. Biasanya ada di pemprov penyidik bangunan. Pemeriksaan itu sampai ke gambarnya. Benar tidak cara menghitungnya.
Berdasarkan perhitungan saya, saya jamin yang menggambar bukan arsitek, karena tidak indah. Jembatan Semanggi, didesain oleh arsitek. Sekarang sudah ada beberapa jembatan di jalan tol Jabodetabek yang didesain oleh arsitek. Arsitek di desain dulu, baru dihitung.
Harusnya kalau memang jalan kelas tiga, semua jenis kendaraan tak boleh lewat. Dugaan saya karena ketidaktahuan. Membangun jembatan itu tidak untuk dilintasi semua kendaraan. Jembatan didesain untuk jenis jalan yang berbeda-beda.
Jadi ada empat kemungkinan jembatan ambrol. Pertama kelelahan metal. Kedua, kemungkinan karena perencanaan. Kemungkinan ketiga karena pelaksanaannya. Keempat karena pengawasan penggunaan, apakah dibatasi atau tidak kendaraan yang boleh lewat. (Basir Daud/Tribun Kaltim)