Sabtu, 30 Agustus 2025

Bentrok di Bima

Protes Insiden di Bima, Mahasiswa di Lhokseumawe Demo

Sejumlah mahasiswa di Lhokseumawe yang tergabung dalam SMUR, KEUMALA dan HIMIPOL

Editor: Hendra Gunawan
zoom-inlihat foto Protes Insiden di Bima, Mahasiswa di Lhokseumawe Demo
Ratusan mahasiswa asal Bima, Nusa Tenggara Barat, di Makassar berunjuk rasa memprotes penembakan di kampung halamannya Bima yang terjadi Sabtu(24/12/2011)pagi.

Laporan wartawan Serambi Indonesia, Saiful Bahri

TRIBUNNEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Sejumlah mahasiswa di Lhokseumawe yang tergabung dalam SMUR, KEUMALA dan HIMIPOL, menggelar aksi demo di Simpang Jam Kota Lhokseumawe, Minggu (25/12).

Aksi demo ini untuk mengutuk insiden berdarah di Bima  Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun aksi mereka hanya berlangsung sekitar 15 menit, sehubungan harus membubarkan diri akibat tidak ada pemberitahuan dan izin dari pihak kepolisian.

Pantauan Serambi, sekitar pukul 11.00 Wib, para pendemo dengan mengusung sejumlah spanduk berkumpul di bundaran Simpang Jam. Di poster yang mereka bawa, tertulis sejumlah kata-kata di antaranya 'Turunkan pembunuh rakyat’, ‘Rakyat bayar pajak, uangnya digunakan beli peluru. Peluru digunakan untuk membunuh rakyat,’  dan sejumlah kecaman lainnya.

Memang dalam aksi tersebut, tidak terlihat adanya personil polisi yang melakukan pengamanan khusus. Namun hanya ada sejumlah personil polisi berpakaian bebas sambil sekali-sekali terlihat berkoordinasi dengan pihak pendemo terkait tidak ada pemberitahuan dan izin yang mereka miliki.

Namun begitu, para pendemo juga sempat mengeluarkan pernyataan sikap yang dibacakan koordinator aksi, Sahrul. Pernyataan sikap mereka terhadap insiden tersebut, penembakan dan kekerasan terhadap rakyat di Bima adalah bentuk nyata pelanggaran hak dasar rakyat atas tanah dan memperoleh kehidupan layak.

Meminta pimpinan jajaran kepolisian di NTB yang terlibat dalam  penembakan yang ujungnya menewaskan sejumlah masyarakat sipil dicopot. Hentikan penangkapan terhadap masyarakat Bima yang melakukan aksi penolakan tambang emas. Serta meminta hentikan eksploitasi perusahaan yang merusak pertanian rakyat.

“Kami juga minta dicabutnya UU Nomor 25 tahun 2007 terkait penananamn modal dan sejumlah peraturan pemerintah (pusat dan daerah) yan g menjadi legitimasi terhadap perampokan kekyaaan alam bangsa," ujarnya.
Tidak lama usai berorasi, para pendemo pun langsung membubarkan diri secara tertip

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan