Keributan Warnai PPI Daerah Jawa tengah 2012
Ditengah semaraknya penyelenggaran Pemilihan Putri Indonesia (PPI) Daerah Jawa Tengah 2012,
Laporan Tribunnews, Iman Suryanto
TRIBUNNEWS, SEMARANG - Ditengah semaraknya penyelenggaran Pemilihan Putri Indonesia (PPI) Daerah Jawa Tengah 2012, terjadi insiden berupa keributaan antara Panitia lokal atau Even 0rganizer (EO) yang diketahui bernama AMPUH dengan beberapa rekan media yang ingin meliput acara tersebut.
Dari Informasi yang dihimpun Tribunnews diketahui bahwa panitia lokal tersebut melarang awak media untuk meliput acara pemilihan puteri Indonesia tersebut dengan alasan diarea acara sudah ada 30 orang yang meliput, namun kenyataan media masih banyak di luar.
Selain itu, media yang telah menunjukan indentitas resminya tidak diperbolehkan masuk. Termasuk rekan rekan media patner yaang datang khusus untuk meliput acaraa tersebut pun tdk diperkenan masuk.
Salah satu media besar dari jakarta, tabloid nyata juga sempat beradu mulut dengan ketua panitia. Namun panitia yang kaku daan berlebihan jadi tdk profesional dalam menangani media.
Kerena sikap panitia yang tidak bersabahat tersebut akhirnya media naasional dari jakarta, seperti Media Indonesia, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Tabloid Nyata, Jawa Tengah Time dan beberapa media daerah lainnya meninggalkan lokasi karena kecewa dengan perlakuan EO tersebut.
"Macam betul ada tuh EO nya, itu acara besar dan tempatnya besar kok kita dibatasi..., makanya kita balik semua,"terang salah satu awak media yang menghubungiTribunnews.
Sementara itu, menurut Ayi, Humas Yayasan Puteri Indonesia yang mencoba menenangkan awak media dari Jakarta yang turut serta bersamanya dalam pemilihan Puteri Indonesia mengatakan bahwa peristiwa tersebut lebih kepada kekakuan dan tidak profesional EO Ampuh yang melarang dan membatasi media yang dibawanya khusus dari Jakarta untuk meliput.
"Kita sudah menjelaskan kepada EO nya bahwa mereka (pers dari jakarta) sengaja kita bawa untuk meliput. Namun mereka menolak media tersebut, bahkan sempat adu mulut, makanya kita tenangkan. Dan akhirnya mereka memilihmemboikot acara tersebut," terang Ayi.
Ayi juga mengatakan kedepan pihaknya sangat berharap agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di daerah-daerah penyelenggaraan PPI.
"Dan ini jadi pelajaran buat penyelenggara daerah lainnya. Kami tahu semua penyelenggara adaa tata tertibnya, tapi jangan kaku dan berlebihanlah untuk menangani media. Media juga tahu tata tertip kok. Saya sudah 9 tahun mengikuti penyelenggaraan PPI di daerah seluruh Indonesia dan penyelenggaraan di tingkat nasional, namun belum pernaah mengalami hal seperti ini. Baru tahun ini kejadian di semarang," terang Ayi dengan Nada tinggi.
Baca juga: