Rabu, 27 Mei 2026

Harga Perahu Nelayan di Cirebon Kian Menjulang

Harga kayu jati meningkat sejak enam bulan lalu. Harga perahu-perahu yang mengandalkan bahan baku kayu jati

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Tarsisius Sutomowaiyo

TRIBUNNEWS.COM, CIREBON -- Harga kayu jati meningkat sejak enam bulan lalu. Harga perahu-perahu yang mengandalkan bahan baku kayu jati pun meningkat tajam. "Harga perahu sekarang berkisar Rp 30 juta sampai Rp 32 juta," ujar seorang pemilik usaha perahu nelayan, Aminah (35), di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, akhir pekan lalu.

Enam bulan silam, kata Aminah, harga perahu dengan ukuran yang sama rata-rata Rp 20 juta sampai Rp 23 juta. Perahu yang ia maksud berukuran kecil memiliki panjang 6,5 sampai 7 meter dan lebar 2,5 meter, sedangkan harga perahu dengan panjang 7-8 meter dan lebar 3 meter bisa mencapai Rp 42 juta sampai Rp 45 juta. Akumulasi peningkatan separuh harga selama setengah tahun terakhir ini, menurutnya, terutama disebabkan perubahan harga kayu jati.

Bila membeli langsung dari pemilik hutan jati, Aminah mengeluarkan uang Rp 11,5 juta untuk mendapatkan 22 batang kayu jati. "Harga sampai di rumah berubah totalnya menjadi Rp 17 juta," katanya.

Penambahan Rp 5 jutasampai 6 juta termasuk biaya izin penebangan jati (kayu jati termasuk pohon lindung), biaya pengangkutan, dan sewa pemotongan.

Namun, jumlah kayu itu tak cukup untuk membuat satu perahu kecil. Menurut perempuan itu, dibutuhkan 25 batang kayu jati demi membentuk perahu nelayan berukuran kecil.

Karena itu, ia membeli gelondongan kayu jati di toko untuk memenuhi keperluan itu. Harga-harga kayu jati di toko bervariasi tergantung ukuran.

Kayu berdiameter 16 sentimer dan panjang 2 meter dibanderol dengan harga minimum Rp 130.000 tiap batang. Untuk mendapatkan kayu jati dengan diameter 30 sentimeter dan panjang 3 meter, Aminah mengeluarkan uang sepuluh kali lipat daripada sebelumnya.

Menurut dia, sejak Juni hingga Desember 2012, akumulasi kenaikan kayu jati sekitar Rp 200.000 per batang. "Jadi, pembelian kayu saja sekitar Rp 25 juta untuk satu perahu kecil," ujarnya. 

Total dana Rp 32 sampai 35 termasuk biaya pekerja perahu selama dua bulan, biaya untuk bahan tambahan seperti paku kuningan dan paku kayu, dan biaya pengerjaan akhir seperti cat dan gambar. Aminah mematok harga minimum Rp 35 juta untuk satu perahu jadi.

Aminah mengaku, para pembeli, terutama nelayan-nelayan, keberatan dengan harga perahu yang mereka bisa dapatkan dengan harga Rp 25 juta sebelum enam bulan lalu. "Para nelayan mengaku kesusahan karena harga rajungan (sejenis kepiting) turun. Harga perahu tak seimbang dengan hasil laut mereka," katanya.

Lantaran makin besar modal yang mesti dikeluarkan, Aminah enggan berspekulasi. "Saya membuat perahu hanya kalau ada pesanan," ujarnya.

Pasangan pembuat perahu di desa yang sama, Sujono (46) dan Nengsih (42), pun mengakui soal kenaikan harga kayu jati. Hal itu tampak dari harga perahu buatan mereka yang bernilai Rp 40 juta-43 juta dengan panjang 8 meter dan lebar 3 meter.

Nilai itu dua kali lipat daripada harga setahun lalu. Sama seperti ucapan Aminah, harga perahu berbanding terbalik dengan kondisi nilai hasil melaut para nelayan yang justru makin turun. 

Baca juga:


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved