37 Karya Foto Untuk Operasi Pasien Bibir Sumbing
“Ternyata tidak hanya dari foto, tapi juga sumbangan dari murid-murid EF di enam cabang,” ujar Intan.
Laporan dari Sri Handi Lestari wartawan surya
TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA-Pameran foto biasanya ditampilkan dalam pigura yang ditempel di sketsel, dinding atau penyangga khusus. Tapi yang ada di lobi EF (English First) di komplek Plaza Surabaya, Rabu (19/12/2012), foto-foto itu digantung dengan tali senar bening. Sehingga foto-foto itu seperti melayang begitu saja.
Ada 37 foto yang tampil melayang. Seluruhnya merupakan karya dari lomba foto bertema kemanusiaan untuk acara penggalangan dana bagi penderita bibir sumbing yang kurang mampu. Ke 37 foto itu masing-masing dihargai Rp 30.000 dan dari jumlah itu, dana yang terkumpul disumbangkan ke Yayasan Peduli Bibir Sumbing (Cleft Care Foundation) Indonesia.
Sebelumnya, foto-foto itu diupload di fanpage EF dan dipilih bagi siapa saja, foto mana yang paling favorit. Tiga besar yang memilih terbanyak, menjadi pemenang. Pemenang terbanyak pertama dan kedua, masing-masing adalah karya dari Faisol Amir. Yaitu Marilah Berbagi dan Demonstrasi.
Di Marilah Berbagi, menunjukkan adanya pengendara motor yang menyerahkan sedekahnya ke pengemis. Sedangkan yang Demonstrasi menunjukkan, seorang polisi yang berjaga dibalik pagar betis yang di belakangnya adalah para buruh yang sedang berdemo.
“Bagi saya itu termasuk kemanusiaan. Jadi saya potret saja,” kata Faisol yang merupakan guru di SD Khotidjah Wonokromo sekaligus penghobi fotografi yang baru dijalani sejak beberapa bulan yang lalu.
Faisol sendiri mendapatkan hadiah Rp 3 jutaa atas karya foto yang banyak dipilih itu, Tapi karena untuk penggalangan daanaa, maka Faisol pun menyerahkan hadiahnya sebagai sumbangan ke yayasan peduli bibir sumbing ini. Koordinator Marketing EF, Intan Andhika, dari pameran foto ini, berhasil mengumpulkan dana hingga Rp35 juta lebih.
“Ternyata tidak hanya dari foto, tapi juga sumbangan dari murid-murid EF di enam cabang,” ujar Intan.
Operation Officer Cleft Care Foundation Indonesia, Clara Hadjon terlihat begitu senang karena masih ada yang peduli dengan masyarakat yang memiliki kelainan bibir sumbing. Apalagi, penderitanya didominasi oleh anak-anak.
“Ada 1200 penderita yang kami dampingi, dan jumlah tersebut bukan berkurang meski sudah dioperasi. Melainkan bertambah, itu karena adanya populasi yang terus berputar,” jelas Clara.
Dalam dampingannya, para penderita bibirr sumbing ini harus menjalani proses sejak awal, dengan pendataan, perbaikan gizi (bila gizi kurang), perawatan pra operasi, operasi, pasca operasi hingga kenormalan.
“Karena operasi bibir sumbing ada yang harus dilakukan beberapa kali, tidak bisa sekali,” tandas Clara.