Breaking News:

26 Desa Terancam Letusan Gunung Seulawah

Data yang pernah dikeluarkan Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan,

zoom-inlihat foto 26 Desa Terancam Letusan Gunung Seulawah
Serambi Indonesia
Gunung Seulawah

“Masyarakat di sekitar Gunung Api Seulawah Agam tidak perlu resah dan ketakutan dengan penetapan status waspada oleh Badan Geologi Bandung. Kenaikan aktivitas ledakan lahar panas Gunung Api Seulawah Agam masih berada jauh di dalam dapur magmanya dan belum mencapai cerobong gunung apinya,” kata Said Ikhsan.Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh menyatakan data yang dilansir Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait meningkatnya status Gunung Api Seulawah Agam dari ‘normal’ menjadi ‘waspada’ merupakan data akurat.

Kepala Seksi Geologi Distamben Aceh, Mukhlis ST MT mengatakan alat pencatatan gempa dapat membedakan dengan jelas mana getaran yang disebabkan karena proses pergerakan (getaran) alamiah kawah dan mana getaran yang disebabkan aktivitas manusia (noise), semisal getaran truk yang tertangkap alat pencatat gempa (seismograf) yang ditempatkan di lokasi.

“Saya pastikan itu data akurat. Sangat dapat dibedakan, mana getaran alamiah yang disebabkan pergerakan kawah dengan getaran yang diakibatkan aktivitas manusia seperti getaran truk lewat,” ujar Mukhlis.

Menurutnya, getaran akibat aktivitas manusia (noise) juga dapat dideteksi secara detil di alat perekam (pencatat) gelombang gempa bumi dengan media kertas (sistem analog). Namun, katanya, secara umum pencatatan gempa dilakukan dalam lima kategori. Yaitu Gempa Vulkanik A (Vulkanik Dalam), Gempa Vulkanik B (Vulkanik Dangkal), Tektonik Jauh, Tektonik Lokal. Satu lainnya adalah Noise, yakni getaran yang dihasilkan karena aktivitas manusia seperti kendaran yang melintas di sekitar lokasi alat seismograf.

Muhklis menjelaskan untuk memantau pergerakan kawah Gunung Api Seulawah Agam, petugas menempatkan satu alat seismograf di lokasi. Tapi, katanya, idealnya alat yang dibutuhkan adalah dua unit. Namun hanya tersedia satu unit. Sehingga seismograf tersebut ditempatkan di antara dua kawah Gunung Api Seulawah Agam. Yaitu di titik 1,7 kilometer dari posisi Kawah Simpago dan 5 kilometer dari posisi Kawah Hezt.

Alat seismograf ini ditempatkan di permukaan antara kedua kawah dan secara real time selalu mengirim data ke receiver di Pos Pengamatan Gunung Api Seulawah Agam. Pos Pengamatan Gunung Api Seulawah Agam berlokasi di Desa Lambaro Tunong, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, sekitar satu kilometer dari Ponpes Gontor 10.

“Di Pos Pengamatan sudah ada dua petugas yang selalu berjaga dan menerima data-data yang dikirimkan dari lokasi kawah,” ujarnya.

Kepala Stasiun Geofisika Mata Ie, Aceh Besar, Syahnan mengatakan getaran gempa vulkanik yang disebabkan pergerakan kawah Gunung Api Seulawah Agam tidak dapat terdeteksi di pusat pengamatan gempa di Mata Ie. Hal ini disebabkan karena jarak (radius) Mata Ie dengan lokasi Gunung Api Seulawah Agam terpaut puluhan kilometer. Terlebih, katanya, getaran yang dihasilkan karena pergerakan kawah gunung hanya terjadi di permukaan kawah. Sehingga hanya dapat terdeteksi di sekitar kawasan kawah.

Menurut Syahnan, alat seismograf yang ditempatkan di Mata Ie lebih difokuskan pada rekaman getaran gempa tektonik (gempa di dasar laut), bukan gempa vulkanik (gempat akibat meletus gunung api).

“Kalau kita lebih fokus merekam getaran gempa tektonik. Tapi kalau gunung berapi hanya bisa direkam di kawasan dekat dengan gunung, karena getarannya terjadi di permukaan kawah atau tempat keluarnya magma,” ujar Sahnan.

Halaman
123
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved