Selasa, 28 April 2026

Rutan Solo Deklarasi Zero Halinar

Rutan Klas I Solo semakin memperketat kemungkinan masuknya narkoba atau barang terlarang lainnya.

Tayang:
Editor: Budi Prasetyo

Petugas Pun Tak Boleh Bawa Ponsel

TRIBUNNEWS.COM  – Rutan Klas I Solo semakin memperketat kemungkinan masuknya narkoba atau barang terlarang lainnya. Pengunjung yang ingin membesuk, diperiksa hingga tiga lapis. Sementara petugas rutan diharuskan meletakkan barang-barangnya di loker khusus.

Pengetatan itu dilakukan sebagai bentuk perwujudan gerakan Getting To Zero Halinar yang dideklarasikan oleh seluruh petugas, Jumat (11/1) . Gerakan ini untuk mencegah masuknya handphone, pungli, dan narkoba di dalam rutan. “Sistem (keamanan) yang dibangun sudah mempersulit masuknya handphone atau narkoba,” kata Dannie Firmansyah, Kepala Rutan Solo.

Menurut Dannie, setiap pembesuk yang masuk diperiksa oleh petugas rutan hingga tiga lapis yakni dua kali sebelum masuk dan satu kali saat menemui tahanan. Pemeriksaan meliputi penggeledahan fisik atau barang bawaan pembesuk. “Kalau ada petugas yang melakukan pungli, langsung laporkan ke saya. Akan langsung saya tindak tegas,” katanya.

Tak hanya pembesuk, petugas rutan sendiri juga diperiksa. Petugas dilarang keras membawa ponsel masuk rutan. Semua ponsel dan barang lainnya harus dimasukkan ke dalam loker khusus yang ada di pos penjagaan. “Petugas pun tak boleh bawa ponsel. Petugas yang melanggar tata tertib kita tindak internal. Tapi kalau pelanggaran pidana, kami serahkan ke polisi,” ujar Dannie lagi.

Deklarasi Getting To Zero Halinar kemarin dikemas dengan dzikir dan doa bersama oleh petugas dan penghuni rutan. Dzikir dan doa dilakukan di masjid An Nur, di dalam rutan. Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Tahanan Rutan Kelas I Solo, Agustiyar Ekantoro menambahkan saat ini jumlah penghuni rutan sebanyak 526 orang. “Dari jumlah itu, tahanan narkoba sebanyak 130 orang,” katanya.

Menurut Agus, untuk meminimalisir masuknya barang-barang dari luar, pihak rutan menyediakan berbagai macam kebutuhan para tahanan. Kebutuhan itu bisa dibeli oleh para tahanan dari koperasi yang menjual kebutuhan sehari-hari. Di dalam rutan juga terdapat wartel dan warnet. “Keluarga tahanan tak perlu membawa terlalu banyak barang dari luar karena sudah ada di koperasi,” katanya.

Pihak rutan juga menyediakan ruang tunggu khusus bagi para pembesuk yang baru saja selesai dibangun beberapa bulan lalu. Ruang itu mengambil lahan yang sebelumnya adalah tempat parkir kendaraan. Di dalam ruang, pembesuk bisa nyaman menunggu gilaran masuk ke dalam rutan. “Fasilitas-falitas lain akan kita tambah agar membuat nyaman dan meminimalisir praktik pungli dan penyelundupan,” kata Agus. (dik)

Baca  Juga  :

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved