Breaking News:

Kenangan Kajari Sangatta tentang Pejuang HAM Munir

Tren pengungkapan dan penegakan hukum kasus tindak pidana korupsi kian meningkat di negeri ini.

zoom-inlihat foto Kenangan Kajari Sangatta tentang Pejuang HAM Munir
TRIBUN KALTIM/KHOLISH CHERED
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sangatta, Didik Farkhan Alisyahdi

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Kholish Chered

TRIBUNNEWS.COM - Tren pengungkapan dan penegakan hukum kasus tindak pidana korupsi kian meningkat di negeri ini. Kegeraman publik pun kian membuncah pada white collar crime yang berdampak luas tersebut. Dengan horizon harapan yang sedemikian tinggi, dibutuhkan aparat yang berdedikasi super sekaligus mampu mengemban amanah rakyat dalam menegakkan keadilan.

Di tengah perang melawan korupsi, perhatian dan dukungan rakyat umumnya tertuju pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal terdapat lembaga negara lain yang juga berwenang mengusut dan menuntut kasus korupsi, yaitu korps kejaksaan.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sangatta, Didik Farkhan Alisyahdi, SH, MH, menyadari bahwa bertugas sebagai penegak hukum di negeri ini menghadapi banyak tantangan. Karena itu diperlukan sinergi antara integritas yang melahirkan karakter amanah, dengan kapasitas yang melahirkan profesionalisme yang tangguh.

Pembentukan karakter setiap manusia selalu memiliki riwayat panjang. Termasuk Didik Farkhan. Sejak kecil, ia sudah terbiasa berjuang dalam keseharian, baik dalam lingkup keluarga, lingkungan, maupun pendidikan. Kehidupan keluarga yang sederhana mendorongnya memiliki motivasi dan ikhtiar ekstra untuk bekerja keras.

"Pendidikan yang diberikan orangtua, terutama ayah saya sangat penting dalam pembentukan karakter. Prinsip hidup yang ditanamkan ayah sejak kecil adalah mematangkan aqidah dan akhlaq. Belajar mengaji jadi menu wajib. Maklum Ayah "jebolan" pesantren dan bekerja di Departemen Agama," katanya.

Ayahnya selalu mengingatkan untuk mendirikan shalat. Saat kuliah di Malang ia kembali diingatkan untuk selalu hormat dan senyum kepada orang yang lebih tua, terutama tetangga. "Terutama ibu saya yang keras mendidik agar selalu menyapa orang. Saya masih ingat kalau jalan bersama ayah dan ibu, kemudian bertemu tetangga namun saya tidak menyapa, pasti dapat cubit di paha," katanya.

Ia pun selalu terkenang pada kata-kata almarhum ayahnya. "Pesan ayah saya yang selalu terngiang, selalu berbuat baik di lingkungan bekerja, terutama pada teman kerja. Karena separuh hidupmu ada di tempat kerja. Hal ini terus saya jaga," katanya.

Ayahnya pula yang mendorong Didik untuk menjadi jaksa. "Sejak kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya tahun 1989, sebenarnya saya sangat berminat pada dunia jurnalistik. Karena itu saya aktif di pers kampus. Selepas lulus saya juga menjadi wartawan. Tidak ada motivasi menjadi jaksa," katanya.

Ia mengaku tidak berminat menjadi jaksa karena saat itu profesi jaksa dipandang minor oleh masyarakat. "Ayah saya lalu meminta saya menjadi jaksa, namun saya tidak mau. Kami sempat berdebat karena saya terus menolak. Saat itu saya masih berprofesi sebagai wartawan," katanya.

Halaman
123
Editor: Widiyabuana Slay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved