Kamis, 30 April 2026

Situ Cigore, Keindahan di Balik Belantara Pinus

Meski sudah lepas siang, sinar matahari harus memaksa masuk untuk menembus celah dedaunan untuk menghangatkan tanah.

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM -- SUARA serangga saling bersahutan di antara pohon-pohon pinus yang berjejer rapi. Meski sudah lepas siang, sinar matahari harus memaksa masuk untuk menembus celah dedaunan untuk menghangatkan tanah.

Deretan pohon-pohon pinus itu seperti gapura selamat datang bagi setiap pengunjung yang akan datang ke Kampung Cigore, Desa Tenjolaya, Kecamatan Tanjung Siang, salah satu situs pariwisata di Kabupaten Subang . Kampung ini adalah salah satu kampung terujung di sebelah barat Kabupaten Subang, yang berbatasan dengan Kabupaten Sumedang.

Tak kurang dari 500 kepala keluarga yang tinggal di kampung yang jaraknya terpaut sekitar 50 kilometer dari pusat pemerintahan Subang ini. Seperti kebanyakan akses jalan menuju daerah-daerah terluar, akses jalan ke Kampung Cigore ini juga rusak, dan menanjak. Di kampung ini tak ada sekolah, kecuali madrasah ibtidaiyah, atau setara dengan tingkat SD.

"Kebanyakan anak-anak di sini sekolah di madrasah itu. Untuk SMP hingga SMA, mereka sekolah di desa lain yang terdekat," kata Zainal Muttaqien (28), pemuda di kampung tersebut kepada Tribun, belum lama ini.

Beruntung, aliran listrik sudah masuk ke kampung ini sejak setahun yang lalu. Pada hari- hari libur, semua sanak saudara yang bekerja di luar kampung ini pulang. Saat pulang itulah, hampir sebagian besar di antara mereka akan memilih berada seharian di sebuah danau yang bereda di kampung tersebut.

"Satu-satunya hiburan bagi warga di sini ya memancing ikan di Situ Cigore. Pada hari-hari biasa saja banyak yang memancing di sini. Kalau libur lebih banyak lagi. Selain itu, situ ini juga hiburan yang paling efektif bagi anak-anak setelah pulang sekolah karena lokasinya tepat di depan madrasah," kata dia.

Selain sebagai tempat bermain air bagi anak-anak, situ ini juga kerap mendatangkan "berkah" tersendiri bagi anak-anak. Sebab, banyak warga yang memancing ini, menggunakan tenaga anak-anak yang sedang bermain air atau berenang di pinggiran situ.

"Jadi yang mancing itu kadang meminta bantuan anak-anak yang sedang bermain air untuk membawakan beberapa makan dari rumah mereka ke situ tersebut. Caranya anak- anak ini berenang ke titik tempat memancing itu yang dipasangi tempat duduk terbuat dari bambu. Imbalannya ya dikasih uang atau dikasih ikan hasil pancingan," katanya.

Ahmad Abidin (57), pria berusia setengah abad dan ditokohkan di kampung ini, mengatakan di Situ Cigore ini terdapat beragam jenis ikan. Tak heran, banyak warga yang pulang dari bertani atau mencari kayu bakar di hutan pun selalu menyempatkan diri memancing di situ ini. "Selama situ ini ada, kami tidak pernah khawatir tidak bisa makan daging," ujar Ahmad.

Hanya saja, kata dia, saban musim kemarau, situ ini kerap kering sehingga banyak warga tidak bisa mencari ikan. "Kalau musim hujan seperti sekarang, airnya banyak dan ikannya juga banyak. Kalau musim kemarau, situnya kering di beberapa titik. Di titik yang kering itulah warga sini memanfaatkannya untuk bermain bola, meskipun di dekat hutan pinus juga terdapat lapangan bola," kata Ahmad yang mengaku lahir dan besar di kampung ini.

Menurut Ahmad, kampungnya ini nyaris tak pernah dikunjungi oleh pejabat Subang. Seingatnya, hanya mantan Bupati Subang Eep Hidayat yang pernah menyempatkan singgah di kampung ini.

"Pak Eep mah baik, dia pernah datang ke sini. Cuma dia saja pejabat di pemda yang pernah datang ke sini. Lainnya seingat saya belum pernah," kata Ahmad.(mega nugraha)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved