Selasa, 14 April 2026

Singkong Gajah Juara III di Lee Kuan Yew Global Business Competition

Rencana bisnis dari Singkong Gajah (Elephant Casava) yang ditemukan oleh Professor Ristono di Samarinda

Editor: Dewi Agustina

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Doan Pardede

TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Rencana bisnis dari Singkong Gajah (Elephant Casava) yang ditemukan oleh Professor Ristono di Samarinda meraih Juara III dalam ajang internasional Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition yang diadakan oleh Singapore Management University. Posisi juara I diraih oleh Bangladesh (Healthy Caps) dan Juara II Kanada (Plan Board).

Tahap final menurut Professor Ristono cukup ketat. Bahkan, sebagai pembimbing pun ia tidak diperkenankan bersama dua mahasiswanya selama karantina.

"Orang luar tidak bisa masuk, termasuk pembimbing dari negara-negaranya. Mereka dikarantina sejak Senin (19/8/2013) hingga pengumuman," kata Ristono yang mengaku masih berada di Jogya, Minggu (25/8/2013).

"Jadi modelnya, murni menunjukkan dari pemikiran mahasiswa itu. Sistemnya seperti X-Factor, setiap peserta pada penampilan akhir didampingi oleh tutor," tambah Ristono.

Untuk tim Singkong Gajah kata Ristono, didampingi seorang tutor dari negara Malaysia. Berdasarkan wawancara dengan dua mahasiswa, ternyata salah satu kekurangan yang juga menjadi kelebihan adalah terlalu banyaknya paparan bisnis dari Singkong Gajah tersebut.

"Kalau yang lain hanya 1 produk sementara kita 4 produk. Makanya saya bilang, seharusnya ini nomor satu. Kita sudah 4 mereka masih 1," canda Ristono.

Kedepannya menurut Ristono, ia akan bertemu dengan tim di Jogya untuk membicarakan realisasi rencana bisnis dari Singkong Gajah baik itu untuk skala nasional dan internasional. Juga untuk melihat tanggapan pemerintah terkait prestasi tingkat internasional tersebut. Saat ini menurutnya, minat masyarakat Eropa untuk Singkong Gajah sudah cukup besar. Bahkan, Kanada sudah memesan 1 ton untuk menjadi contoh (sampling).

"Jadi saya tekankan (kepada tim) ini baru start bukan akhir. Yang penting mereka sudah punya rencana bisnis dan sudah diuji secara internasional," kata Ristono.

Kompetisi Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition ini bertujuan mencari ide-ide baru yang dapat menggugah dunia. Perlu diketahui, untuk masuk tahap semifinal ini grup Singkong Gajah harus menyisihkan ratusan ide-ide bisnis lainnya yang berasal dari 75 institusi dan universitas di seluruh dunia. Namun para finalis harus melalui tahap final sebelum akhirnya dipertemukan oleh Angel Investor dengan perusahaan agriculture raksasa "Wilmar" selaku sponsor tunggal kompetisi yang kemungkinan besar akan memberikan investasi penuh bagi pemenang kompetisi.

Adalah Arbiyan Christianto dan Aryo Andityo, dua mahasiswa dari Universitas Gajah Mada yang meminjam produk Singkong Gajah untuk diperkenalkan kepada komunitas internasional.

Dalam kompetisi, tim memperkenalkan Singkong Gajah dengan pendekatan korporasi. Dijelaskan dalam rencana bisnis bahwa Singkong Gajah adalah tanaman multyfungsi yang mampu mencapai break event point (titik impas) dalam jangka waktu sangat singkat. Perusahaan yang dibentuk juga akan berdasarkan konsep social corporation dan eco friendly business dimana realisasinya akan memberdayakan petani tradisional dan masyarakat desa dalam memproses Singkong Gajah menjadi produk-produk seperti tepung mocaf, biobriket, flavonoid, dan baglogs tanpa menyisakan limbah sama sekali.

Singkong Gajah menurut Ristiono dapat menjawab sedikitnya 4 masalah terbesar yang d hadapi dunia saat ini. Untuk pangan, Singkong Gajah diolah sedemikian rupa menjadi tepung mocaf yang sangat layak untuk menggantikan tepung gandum yang ada selama ini. Untuk energi, tepung kanji dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan briket batu bara (biobriket). Dan untuk kesehatan, kandungan flanovoid di Singkong Gajah juga dapat menyembuhkan penyakit kanker. Bahkan sisa dari proses produksi ini dapat digunakan sebagai media tanam (baglogs) sehingga nyaris tanpa limbah.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved