CCTV Miliaran di Surabaya Hanya Pantau Macet, Aksi Kriminal Lolos dari Sorotan

Perangkat teknologi ini jumlahnya mencapai 185 unit

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Sejak tahun 2011, warga Surabaya punya pengawas atau pengintai andal. Pengintai yang bekerja penuh siang malam itu bernama kamera closed-circuit television atau CCTV.

Perangkat teknologi ini jumlahnya mencapai 185 unit, tersebar di kawasan-kawasan rawan. Mulai rawan macet, rawan gangguan ketertiban, hingga rawan tindak kriminal.

”Di Indonesia, hanya lima wilayah yang menerapkan teknologi ini. Tapi, bisa dibilang hanya Jakarta dan Surabaya yang bagus  dan setiap tahun selalu berkembang,” ujar Kepala Dinas Perhubungan dan Dinas Komunikasi Informasi (Dishubkominfo) Kota Surabaya, Eddy, Selasa (19/11/2013).

Tiga daerah lain yang menerapkan teknologi ‘mata elang pengintai kota' itu adalah  Bandung, Bali, dan Batam. Tetapi, Eddy berani bertaruh, kualitas penerapan CCTV di Surabaya hanya bisa ditandingi Jakarta.

“Setahu saya, (daerah) lain hanya punya alat, tapi tidak jalan,” ujar Eddy bangga.

Dishubkominfo yang dipimpin Eddy menjadi pengendali penuh perangkat pengawas kota itu.
Selama tiga tahun beroperasi, anggaran yang digelontorkan sudah mencapai Rp 24 miliar. Ini angka yang dinilai Pemkot Surabaya layak  dikeluarkan demi kenyamanan warga di jalan.

Namun sayang, teknologi mahal itu hingga kini baru bisa untuk memantau kemacetan jalan. Sementara tindak kejahatan di jalan-jalan masih lolos dari sorotan kamera CCTV. Padahal, potensi kejahatan kota tidak kalah menakutkan dibanding kemacetan lalu lintas.
Eddy menyebut program kamera CCTV yang dikendalikannya memang didesain untuk pengawasan lalu lintas, persis namanya Intelligent Transport System (ITS). Namun demikian, kamera-kamera itu bisa dimanfaatkan untuk pengintai kejahatan.

Tetapi, intaian ini menjadi wewenang kepolisian. Kata Eddy, selama ini kepolisian ikut memanfaatkan kamera Dishub ini. Baik untuk memantau situasi lalu lintas maupun keamanan. Beberapa kali, polisi juga meminta hasil rekaman kamera di sebuah daerah, untuk keperluan pengusutan kasus kriminalitas. 

“Dishub sendiri berkepentingan pada kamera ini untuk rekayasa lalin (lalu lintas), bila terjadi kemacetan di sebuah daerah. Makanya, kebanyakan kamera ini ada di persimpangan jalan. Semua traffic light di Surabaya, sudah ter-cover oleh kamera ini,” katanya.

Untuk memantau keamanan, polisi tidak perlu setiap hari datang ke pusat kendali ITS Dishub Kota Surabaya di Terminal Bratang. Polisi sudah membuat koneksi pada kamera-kamera milik Dishub itu.

Bahkan, polisi sudah memiliki pusat pantau sendiri. Misalnya di Polda Jatim telah ada ruang Regional Transportation Management Center (RTMC). Dari ruang ini, polisi bisa melihat hasil sorotan kamera di seluruh tempat.

Sementara itu, Kepala Operasional RTMC Polda Jatim, Kompol Ronny Tri Prasetyo mengakui sebagian besar kamera CCTV yang diakses polisi merupakan milik Dishub Surabaya. Di luar itu, ada 28 kamera CCTV milik Korlantas Mabes Polri dan 18 kamera  CCTV milik Polrestabes Surabaya.

Mata elang pengintai milik polisi ini tersebar di berbagai daerah di Jatim. Terutama di kawasan-kawasan rawan kejahatan.

“Tentu jumlah kameranya semakin tahun akan terus bertambah. Kami sedang siapkan infrastrukturnya,” ujar Ronny.

Halaman
123
Sumber: Surya
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved