Breaking News:

Ada Rencana Pindahkan PLTS ke Ujungberung

Di hari ke-86 menjadi Wali Kota, Ridwan Kamil akan berupaya menangani sampah dengan sistem 3R (recycle, reuse, reduce).

/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
BERANGKATKAN PKL KE GEDEBAGE - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengayuh sepeda kembali ke Pendopo seusai melepas keberangkatan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Kepatihan, Kota Bandung, Rabu (4/12). Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kota Bandung memberangkatkan sebanyak 104 PKL yang biasa menjajakan dagangannya di Jalan Kepatihan untuk menempati lahan baru di kawasan Gedebage. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Di hari ke-86 menjadi Wali Kota, Ridwan Kamil akan berupaya menangani sampah dengan sistem 3R (recycle, reuse, reduce). Ia belum memikirkan membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

"Membangun PLTSa belum mendesak, apalagi masih banyak yang menentang. Jadi lebih baik ditunda. Bahkan ada rencana pindah ke Ujungberung. Ada bekas pabrik milik Pemkot," ujar Emil, panggilan Ridwan Kamil, di Balai Kota, Rabu (11/12/2013).

Emil meminta warga tak perlu khawatir tentang sampah, Selain mengupayakan mengurangi sampah dari rumah tangga, kata Emil, TPA Sari Mukti masih bisa menampung. Bahkan jika TPA Sarimukti ditutup, kata dia, ada Legok Nangka milik Provinsi.

Menurut Emil dengan PLTSa, biaya operasional lebih besar sehingga menyedot uang rakyat hanya untuk sampah. Padahal dengan cara mengurangi sampah dari rumah, biaya bisa dihemat. "PLTSa harus membayar ke perusahaan swasta sebesar Rp 90 miliar selama 20 tahun sehingga uang rakyat tersedot Rp 1,8 triliuan," ujar Emil.

Tentang banjir di Pagarsih, Emil akan meminta dinas terkait untuk membongkar beton di sepanjang jalan Pagarsih. "Banjir Pagarsih sudah legendaris karena banyak penyebabnya dan tahun ini harus bisa diatasi," ujar Emil.

Emil mengatakan hasil kajian di Sungai Citepus menunjukkan di sepanjang Jalan Pagarsih banyak pipa besar melintang sehingga banyak sampah tersangkut di pipa dan banyak belokan sehingga air berputar dan melimpah ke jalan.

Emil juga menyebutkan warga sekitar Pagarsih masih punya kebiasaan membuang sampah ke sungai. Itu terbukti di sungai banyak kasur, bantal sampai kursi. "Pekan ini pasukan gorong-gorong fokus di Pagarsih sekalian membongkar beton," ujar Emil.

Menanggapi kecelakaan kereta api di pintu perlintasan, Emil mengatakan, peristiwa itu harus menjadi pelajaran bagi warga Kota Bandung agar jangan menerobos palang pintu yang sudah tertutup. "Belajar disiplin dan menaati aturan akan mencengah kecelakaan," ujar Emil.

Saat diberi tahu bahwa di Kota Bandung ada 17 palang pintu kereta api yang liar tidak terjaga, Emil mengaku kaget. Menurut Emil, palang pintu itu aset PT KAI dan tanggung jawab PT KAI, tapi jika wewenangnya dialihkan ke Pemkot, ia sangat bersyukur karena bisa turut serta mengantisipasi kecelakaan.

"Palang pintu kereta menyangkut banyak nyawa, jadi harus mendapat perhatian serius. Jika Pemkot diberi wewenang, tentunya bisa mencari solusi agar pintu dijaga," ujar Emil.

Emil akan menginvetarisasi palang pintu kereta api di Kota Bandung untuk mengantisipasi kecelakaan. "Jika Pemkot punya wewenang, besok saya kerahkan staf untuk menginventarisasi palang pintu," ujar Emil. (tsm)

Berita Populer
Editor: Ade Mayasanto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved