Breaking News:

Nitri Menari Sembari Bawa Revolver untuk Jaga Bung Karno

Acara dialog dan diskusi buku "Bung Karno: Kolektor dan Patron Seni Rupa" menjadi ajang curahan hati Nitri.

Tribun Bali/ I Putu Darmendra
Ni Luh Putu Sugianitri (67) Ajudan Soekarno 

Laporan Tribun Bali Kander Turnip dan I Putu Darmendra

TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR - Acara dialog dan diskusi buku "Bung Karno: Kolektor dan Patron Seni Rupa" menjadi ajang curahan hati tentang sepenggal kisah hidup Soekarno.

Terutama, terkait kepedulian Presiden pertama RI tersebut terhadap lukisan dan para perupa di Indonesia.

Diskusi itu buku karya Mikke Susanto itu, digelar Pustaka Bentara Budaya Bali bekerjasama dengan Kompas Gramedia, Dictian, dan lembaga lainnya, di Bentara Budaya Bali Jalan Prof Ida Bagus Mantra No 88 A, Ketewel, Gianyar, Sabtu (12/4/2014) malam.

Ni Luh Putu Sugianitri (67) dengan berapi-api, menceritakan bagaimana dia sebagai polisi wanita (polwan) menjadi ajudan terakhir Presiden Soekarno.

Menurut Nitri, panggilan akrabnya, karena perpindahan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto dan suasana psikologis yang menyertainya, dialah satu-satunya polwan yang tidak pernah naik pangkat.

Ia selamanya hanya berpangkat brigadir, tidak pernah dipecat, tidak pernah diberhentikan, dan tidak pernah menerima uang pensiun sampai saat ini.

"Saya satu-satunya wanita Bali yang menjadi ajudan terakhir Presiden Soekarno. Saya dari Desa Babatan, Penebel, Tabanan. Anak satu-satunya Ni Made Pajeng, pendiri sekolah di sana. Saya polisi angkatan ketiga di Sekolah Kepolisian Sukabumi," ujar Nitri, Sabtu (12/4/2014) malam.

Dikisahkan Nitri, setelah pendidikan, polwan yang lain kembali ke daerah masing-masing, namun dia tidak boleh pulang. Sebagai orang Bali, dia sering diminta menari.

Dia sering tampil menari di acara-acara resmi kepresidenan, hingga akhirnya Nitri kemudian menjadi ajudan Bung Karno.

"Sebagai polisi ajudan, saya tidak pernah memakai seragam polisi. Waktu itu, saya lebih sering menari daripada latihan karena penari masih jarang. Saya selalu memakai kebaya dan menari, sementara di dalam tas ada revolver. Dengan begitu, orang tidak tahu bahwa Soekarno dikawal oleh ajudan yang sedang menari," kisah ibu tujuh anak dari dua kali pernikahannya ini.

Nitri mengaku sebagai ajudan, hanya sebagai tukang beli kue, makanan, dan buah-buahan yang disenangi Bung Karno. Menurut Nitri, Bung Karno paling menyukai kue lemper, buah rambutan, dan jika makan harus ada kecap merek tertentu yang pabriknya ada di Blitar, kota kelahiran Putra Sang Fajar itu.

"Kalau ada yang bilang bahwa Bung Karno memiliki uang miliaran saat presiden, saya tertawa dalam hati. Mereka tidak tahu, pernah sekali waktu Bung Karno meminta saya membelikan seikat rambutan," terangnya.

"Waktu itu saya bilang, mana uang untuk membelinya. Bung Karno tidak punya uang. Saya tahu persis, karena saya yang biasanya memegang untuk membeli makanannya," kata Nitri yang kini menjadi pengusaha jeruk Bali di kawasan Renon, Denpasar, tersebut.

"Setelah peristiwa Gestok (G30S), saya mendampingi Bapak Presiden sampai diamankan. Setelah serah terima kekuasaan, Ibu Tien (Istri Soeharto) meminta supaya saya ikut menjadi ajudan. Saya tidak mau, karena waktu itu Bung Karno dibilang pemberontak," kata Nitri.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved