Dari Menari Jaipongan Bisa Melanglang Buana
SENI budaya Sunda biasanya dimumule (dilestarikan) oleh para orang tua. Tapi saat ini, anak- anak remaja pun sudah ikut melestarikan.
TRIBUNNEWS.COM - SENI budaya Sunda biasanya dimumule (dilestarikan) oleh para orang tua. Tapi saat ini, anak- anak remaja pun sudah ikut melestarikan, bahkan mempromosikan ke seluruh Nusantara dan beberapa negara.
Itulah yang dilakukan Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Bandung saat memboyong penari dan seniman ke Kota Dumai, Provinsi Riau, agar budaya Sunda lebih dikenal.
Tak sia-sia membawa 51 orang penari dan seniman dengan perjalanan cukup jauh karena mendapat sambutan dari masyarakat Dumai, peserta Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), dan peserta Indonesia City Expo 2014 dari 97 kota di Indonesia.
Para penari jaipong dan Tari Merak yang berusia antara 15-18 tahun sangat energik dan bersemangat menghibur tamu.
Seperti tak mengenal lelah, setelah menempuh perjalanan selama delapan jam dari Pekanbaru ke Dumai, para mojang Bandung itu langsung berlatih.
Setiap tampil para penari berdandan sendiri tanpa membawa perias, apalagi ke salon. Namun penampilan mereka tetap rapi, cantik, dan memesona.
"Sudah biasa dandan sendiri walau harus tiga jam untuk berias karena kalau ke salon mahal," ujar Kinanti, seorang penari jaipong.
Diandra Argin, penari jaipong yang tampil di Gala Dinner mempersembahkan jaipongan Ronggeng Nyentrik, mengaku bangga bisa memperkenalkan seni Sunda.
"Saya senang bisa memperkenalkan budaya Sunda dan berkeliling daerah sampai luar negeri," ujar Diandra.
Diandra mengenal dunia kesenian Sunda sejak duduk di kelas 3 SD. Saat itu, kenangnya, ia melihat gurunya menunjukkan Tari Merak.
Sejak saat itu, gadis yang kini duduk di kelas 3 SMAN 2 Bandung ini mencintai seni Sunda. Diandra sudah keliling dunia menari di Korea, India, Jepang, sampai Afrika.
Di acara Apeksi ini, rombongan Kota Bandung mendapat giliran tampil dua kali. Pertunjukan pertama dalam acara Gala Dinner dan penampilan kedua pada hari ketiga City Expo 2014.
Jika di Gala Dinner hanya menampilkan tari jaipong, di hari ketiga City Expo, tampil dengan empat macam tarian, yaitu Tari Merak, Cikeruhan, Jaipong, dan Rajawali.
Rencananya, keempat jenis tarian itu akan dijadikan tarian ikon khas Kota Bandung untuk menyambut tamu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Herlan JS, mengatakan sambutan warga Dumai cukup bagus. Selain warga, jajaran pejabat Kota Dumai pun ikut menyaksikan tarian persembahan dari Kota Bandung.
Seniman Bandung diberi waktu 30 menit untuk tampil. Namun karena antusiasme warga Dumai cukup tinggi, Kota Bandung pun tampil di pentas selama satu jam.
Mengakhiri kegiatan kontingen Kota Bandung menyerahkan replika rajawali sebagai kenang-kenangan.
Menurut Herlan, undangan Kota Bandung agar tampil di bebeberap event cukup banyak sehingga pihaknya kewalahan.
"Dalam waktu dekat akan tampil di Bali dan Singapura. Penarinya yang tampil berbeda-beda, agar semua mendapat kesempatan dan harus ada regenerasi," ujar Herlan. (*)