Breaking News:

PT Gemala Borneo Utama tak Pernah Bawa Emas Setengah Jadi dari Pulau Romang

PT Gemala Borneo Utama (GBU) membantah informasi bahwa perusahaan tersebut membawa keluar satu ton emas setengah jadi dari Pulau Romang

TRIBUNNEWS.COM, AMBON -  PT Gemala Borneo Utama (GBU) membantah informasi bahwa perusahaan tersebut membawa keluar satu ton emas setengah jadi dari Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) untuk dijual ke luar negeri.

"PT Gemala Borneo Utama tidak pernah membawa keluar emas setengah jadi dari Pulau Romang. Jangankan satu ton, sekilopun tidak pernah,” ungkap General Manager Country PT GBU, Yusdi Sangadji.

Menurutnya, PT GBU selama ini hanya membawa batuan mineral yang akan dijadikan sampel untuk pengujian di laboratorium.

Pernyataan Sangadji ini merupakan klarifikasi atas pemberitaan di sejumlah media lokal di Ambon dalam sepekan terakhir, yang memberitakan adanya pengiriman satu ton emas setengah jadi dari Pulau Romang, kabupaten MBD menggunakan pesawat nomad milik TNI Angkatan Laut, pada 28 April 2014, melalui Bandara internasional Pattimura.

Saat tiba di bandara Pattimura material tersebut ditahan intelijen TNI Angkatan Udara karena dicurigai adalah emas setengah jadi, karena perusahaan yang mengantongi ijin operasi eksplorasi pertambangan emas di Pulau Romang sejak tahun 2006.

Tetapi satu ton material yang dicurigai sebagai emas setengah jadi tersebut, akhirnya bisa diberangkatkan dari Bandara Pattimura menggunakan penerbangan komersial dengan tujuan Surabaya, Jawa Timur.

Pemberitaan dugaan penyelundupan emas dari Pulau Romang pada sejumlah media di Ambon tersebut berdasarkan informasi yang diberikan salah seorang tokoh masyarakat kabupaten MBD, Chao Petrus.

Menurut Yusdi yang didampingi Tekhnical Project Manajer PT. GBU Heri Kusmana dan Ahli pertambangan perusahaan George Philipus Loswetar, sampel material tersebut ditahan aparat TNI AU sehari setelah kegiatan presentase analisa dampak lingkungan (amdal) milik perusahaan yang dilakukan tim teknis perusahaan dan Bapedalda Maluku kepada pemuka masyarakat Pulau Romang.

"Sampel yang ditahan ini bukan untuk pertama kalinya. Pernah juga ditahan saat pengiriman masih melalui Bandara Eltari Kupang, sebanyak delapan ton dan kemudian dialihkan penanganannya ke Polda Maluku. Sampel yang ditahan hingga saat ini juga masih berada di Polda Maluku," katanya.

Yusdi menegaskan, pengiriman sampel hasil pengeboran (drilling) di Pulau Romang ke Jakarta (bukan Surabaya seperti diberitakan) sudah dilakukan sejak tahun 2010. Sampel tersebut dikirim ke laboratorium PT Intertek Utama Service, sebuah perusahaan yang memiliki ijin dan spesifikasi internasional di bidang pengujian material pertambangan baik di dalam dan luar negeri.

Halaman
12
Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved